Sabtu, 21 Desember 2013

Hukum Perayaan Menyambut Tahun Baru Masehi


tahun-baru
Oleh : Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta
( Abu Ya'la Babussalam,Lc )
Pertanyaan.
Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta ditanya :
[1]. Pada beberapa hari belakangan ini, kami menyaksikan betapa gencarnya liputan mass-media mass-media (cetak maupun elektronik) dalam rangka menyambut datangnya tahun 2000M dan permulaan Milenium Ketiga seputar kejadian-kejadian dan prosesi-prosesinya. Terlihat bahwa orang-orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nashrani serta selain mereka begitu suka cita menggantungkan harapan-harapan dengan adanya hal itu.
Pertanyaannya, wahai Syaikh yang mulia. Sesungguhnya sebagian mereka yang menisbatkan diri sebagai orang Islam telah juga menunjukkan perhatiannya terhadap hal ini dan menganggapnya sebagai momentum bahagia sehingga mengaitkan hal itu dengan pernikahan, pekerjaan mereka atau memajang/menempelkan pengumuman tentang hal itu di altar-altar perdagangan atau perusahaan mereka dan lain sebagainya yang menimbulkan dampak negatif bagi seorang Muslim.
Dalam hal ini, apakah hukum mengangungkan momentum seperti itu dan menyambutnya serta saling mengucapkan selamat karenanya, baik secara lisan, melalui kartu khusus yang dicetak dan lain sebagainya, menurut syari'at Islam ? Semoga Allah memberikan ganjaran pahala kepada anda atas amal shalih terhadap Islam dan kaum Muslimin dengan sebaik-baik ganjaran.
[2]. Dalam versi pertanyaan yang lain : Orang-orang Yahudi dan Nashrani bersiap-siap untuk menyambut datang tahun baru 2000 Masehi berdasarkan sejarah mereka dalam bentuk yang tidak lazim demi mempromosikan program-program serta keyakinan-keyakinan mereka di seluruh dunia, khususnya di negeri-negeri Islam.
Sebagian kaum Muslimin telah terpengaruh dengan promosi ini sehingga mereka nampak mempersiapkan segala sesuatunya untuk hal itu, dan di antara mereka ada yang mengumumkan potongan harga (diskon) atas barang dagangannnya spesial buat momentum ini. Kiranya, dikhawatirkan kelak hal ini berkembang menjadi aqidah kaum Muslimin di dalam ber-wala' (loyal) terhadap orang-orang non Muslim.
Kami berharap mendapatkan penjelasan anda seputar hukum keikutsertaan kaum Muslimin dalam momentum-momentum kaum kafir, mempromosikan hal itu dan menyambutnya. Demikian juga hukum menon-aktifkan kegiatan kerja oleh sebagian lembaga dari perusahaan berkenaan dengan hal itu.
Apakah melakukan sesuatu dari hal-hal tersebut dan semisalnya atau rela terhadapnya mempengaruhi aqidah seorang Muslim ?
Jawaban.
Sesungguhnya nikmat yang paling besar yang dianugrahkan oleh Allah kepada para hambaNya adalah nikmat Islam dan hidayah kepada jalanNya yang lurus. Di antara rahmatNya pula, Allah Ta'ala mewajibkan kepada para hambaNya, kaum Mukminin, agar memohon hidayahNya di dalam shalat-shalat mereka. Mereka memohon kepadaNya agar mendapatkan hidayah ke jalan yang lurus dan mantap di atasnya. Dalam hal ini, Allah Ta'ala telah memberikan spesifikasi jalan (shirath) ini sebagai jalan para Nabi, Ash-Shiddiqin, Syuhada dan orang-orang shalih yang Dia anugrahkan nikmatNya kepada mereka. Jadi, bukan jalan orang-orang yahudi, nashrani dan seluruh orang-orang kafir dan musyrik yang menyimpang darinya.
Bila hal ini sudah diketahui, maka adalah wajib bagi seorang Muslim untuk mengenal kadar nikmat Allah kepadanya sehingga dengan itu, dia mau bersyukur kepadaNya melalui ucapan, perbuatan dan keyakinan. Dalam pada itu, dia juga akan menjaga nikmat ini dan membentenginya serta melakukan sebab-sebab yang dapat menjaga hilangnnya nikmat tersebut.
Bagi orang yang diberikan bashiroh (pemahaman mendalam) terhadap Dienullah di saat kondisi dunia dewasa ini yang diselimuti oleh pencampuradukan antara al-haq dan kebatilan pada kebanyakan orang, dia akan mengetahui dengan jelas upaya keras yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam untuk menghapus kebenarannya dan memadamkan cahayanya, upaya menjauhkan kaum Muslimin darinya serta memutuskan kontak mereka dengannya melalui berbagai sarana yang memungkinkan. Belum lagi, upaya memperburuk citra Islam dan melabelkan tuhudan dan kebohongan-kebohongan terhadanya guna menghadang seluruh manusia dari jalan Allah dan dari beriman kepada wahyu yang diturunkan kepada RasulNya, Muhammad bin Abdullah. Pembenaran statement ini dibuktikan oleh firman-firman Allah Ta'ala.
"Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kami beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran" [QS Al-Baqarah 2:109]
"Segolongan dari ahli kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya" [QS Ali-Imran 3:69]
"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi" [QS Ali-Imran 3:149]
"Katakanlah, Hai ahli kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan, "Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan" [QS Ali Imran 3:99]
Dan ayat-ayat lainnya. Akan tetapi meskipun demikian, Allah Ta'ala telah berjanji untuk mejaga dienNya dan kitabNya, dalam firmanNya.
"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya" [QS Al-Hijr 15:9]
Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak.
Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah memberitakan bahwa akan selalu muncul suatu golongan dari umatnya yang berjalan di atas al-haq, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka ataupun menentang mereka hingga terjadi hari Kiamat. Segala puji bagi Allah pujian yang banyak dan kita memohon kepadaNya Yang Maha Dekat dan Mengabulkan Permohonan agar menjadikan kita dan saudara-saudara kita kaum Muslimin termasuk dari golongan tersebut, sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.
Dengan ini, Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Ilmiah wal Ifta setelah mendengar dan melihat adanya penyambutan yang demikian meriah dan perhatian yang serius dan beberapa golongan orang-orang Yahudi dan Nashrani serta orang-orang yang menisbatkan diri kepada Islam yang terpengaruh oleh mereka berkenaan dengan telah berakhirnya momentum tahun 2000 dan menyongsong Milenium Ketiga menurut Kalender Masehi, maka suka tidak suka, Lajnah Daimah Lil Buhuts Ilmiah wal Ifta wajib memberikan nasehat dan penjelasan kepada seluruh kaum Muslimin tentang hakikat momentum ini serta hukum syariat yang suci ini terhadapnya sehingga kaum Muslimin memahami dengan baik dien mereka dan berhati-hati. Dengan demikian, tidak terjerumus ke dalam kesesatan-kesesatan orang-orang yahudi yang dimurkai dan orang-orang nashrani yang sesat.
Karenanya, kami menyatakan.
Pertama.
Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani menggantungkan kejadian-kejadian, keluh-kesah dan harapan-harapan mereka kepada momentum Milenium ini dengan begitu yakin akan terealisasinya hal itu atau paling tidak, hampir demikian karena menurut anggapan mereka hal ini sudah melalui proses kajian dan penelitian. Demikian pula, mereka mengait-ngaitkan sebagian permasalahan aqidah mereka dengan momentum ini dengan anggapan bahwa hal itu berasal dari ajaran kitab-kitab mereka yang sudah dirubah. Jadi, adalah wajib bagi seorang Muslim untuk tidak menoleh kepada hal itu dan tergoda olehnya bahkan semestinya merasa cukup dengan Kitab Rabbnya Ta'ala dan Sunnah Nabinya Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan tidak memerlukan lagi selain keduanya. Sedangkan teori-teori dan pendapat-pendapat yang bertentangan dengan keduanya, ia tidak lebih hanya sekedar berupa ilusi belaka.
Kedua.
Momentum ini dan semisalnya tidak luput dari pencampuradukan antara al-haq dan kebatilan, propaganda kepada kekufuran, kesesatan, permisivisme (serba boleh) dan atheisme serta pemunculan sesuatu yang menurut syari'at adalah sesuatu yang mungkar. Di antara hal itu adalah propaganda kepada penyatuan agama-agama (pluralisme), penyamaan Islam dengan aliran-aliran dan sekte-sekte sesat lainnya, penyucian terhadap salib dan penampakan syi'ar-syi'ar kekufuran yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani serta perbuatan-pebuatan dan ucapan-ucapan semisal itu yang mengandung beberapa hal ; bisa jadi, pernyataan bahwa syari'at Yahudi dan Nashrani yang sudah diganti dan dihapus tersebut dapat menyampaikan kepada Allah. Bisa jadi pula, berupa anggapan baik terhadap sebagian dari ajaran kedua agama tersebut yang bertentangan dengan dien al-Islam. Atau hal selain itu yang merupakan bentuk kekufuran kepada Allah dan RasulNya, kepada Islam dan ijma' umat ini. Belum lagi, hal itu adalah sebagai salah satu sarana westernisasi kaum Muslimin dari ajaran-ajaran agama mereka.
Ketiga
Banyak sekali dalil-dalil dari Kitabullah, as-Sunnah dan atsar-atsar yang shahih yang melarang untuk menyerupai orang-orang kafir di dalam hal yang menjadi ciri dan kekhususan mereka. Di antara hal itu adalah menyerupai mereka dalam perayaan hari-hari besar dan pesta-pesta mereka. Hari besar ('Ied) maknanya (secara terminologis) adalah sebutan bagi sesuatu, termasuk didalamnya setiap hari yang datang kembali dan terulang, yang diagung-agungkan oleh orang-orang kafir. Atau sebutan bagi tempat orang-orang kafir dalam menyelenggarakan perkumpulan keagamaan. Jadi, setiap perbuatan yang mereka ada-adakan di tempat-tempat atau waktu-waktu seperti ini maka itu termasuk hari besar ('Ied) mereka. Karenanya, larangannya bukan hanya terhadap hari-hari besar yang khusus buat mereka saja, akan tetapi setiap waktu dan tempat yang mereka agungkan yang sesungguhnya tidak ada landasannya di dalam dien Islam, demikian pula, perbuatan-perbuatan yang mereka ada-adakan di dalamnya juga termasuk ke dalam hal itu. Ditambah lagi dengan hari-hari sebelum dan sesudahnya yang nilai religiusnya bagi mereka sama saja sebagaimana yang disinggung oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah. Di antara ayat yang menyebutkan secara khusus larangan menyerupai hari-hari besar mereka adalah firmanNya.
"Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu" [QS Al-Furqan 25:72]
Ayat ini berkaitan dengan salah satu sifat para hamba Allah yang beriman. Sekelompok Salaf seperti Ibnu Sirin, Mujahid dan Ar-Rabi' bin Anas menafsirkan kata "Az-Zuura" (di dalam ayat tersebut) sebagai hari-hari besar orang kafir.
Dalam hadits yang shahih dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, dia berkata, Saat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari besar ('Ied) untuk bermain-main. Lalu beliau bertanya, "Dua hari untuk apa ini ?". Mereka menjawab, "Dua hari di mana kami sering bermain-main di masa Jahiliyyah". Lantas beliau bersabda.
"Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian untuk keduanya dua hari yang lebih baik dari keduanya : Iedul Adha dan Iedul Fithri" [1]
Demikian pula terdapat hadits yang shahih dari Tsabit bin Adl-Dlahhak Radhiyallahu 'anhu bahwasanya dia berkata, "Seorang laki-laki telah bernadzar pada masa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam untuk menyembelih onta sebagai qurban di Buwanah. Lalu dia mendatangi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sembari berkata.
"Sesungguhnya aku telah bernadzar untuk menyembelih onta sebagai qurban di Buwanah. Lalu Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bertanya, 'Apakah di dalamnya terdapat salah satu dari berhala-berhala Jahiliyyah yang disembah ? Mereka menjawab, 'Tidak'. Beliau bertanya lagi. 'Apakah di dalamnya terdapat salah satu dari hari-hari besar mereka ?'. Mereka menjawab, 'Tidak'. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, 'Tepatilah nadzarmu karena tidak perlu menepati nadzar di dalam berbuat maksiat kepada Allah dan di dalam hal yang tidak dipunyai (tidak mampu dilakukan) oleh manusia" [2]
Umar bin Al-Khaththtab Radhiyallahu 'anhu berkata, "Janganlah kalian mengunjungi kaum musyrikin di gereja-gereja (rumah-rumah ibadah) mereka pada hari besar mereka karena sesungguhnya kemurkaan Allah akan turun atas mereka" [3]
Dia berkata lagi, "Hindarilah musuh-musuh Allah pada momentum hari-hari besar mereka" [4]
Dan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radhiyallahu 'anhu, dia berkata, "Barangsiapa yang berdiam di negeri-negeri orang asing, lalu membuat tahun baru dan festival seperti mereka serta menyerupai mereka hingga dia mati dalam kondisi demikian, maka kelak dia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama mereka" [5]
Keempat.
Merayakan hari-hari besar orang-orang kafir juga dilarang karena alasan-alasan yang banyak sekali, di antaranya :
(a). Menyerupai mereka dalam sebagian hari besar mereka mengandung konsekwensi bergembira dan membuat mereka berlapang dada terhadap kebatilan yang sedang mereka lakukan.
(b). Menyerupai mereka dalam gerak-gerik dan bentuk pada hal-hal yang bersifat lahiriah akan mengandung konsekwensi menyerupai mereka pula dalam gerak-gerik dan bentuk pada hal-hal yang bersifat batiniah yang berupa 'aqidah-aqidah batil melalui cara mencuri-curi dan bertahap lagi tersembunyi.
Dampak negatif yang paling besar dari hal itu adalah menyerupai orang-orang kafir secara lahiriah akan menimbulkan sejenis kecintaan dan kesukaan serta loyalitas secara batin. Mencintai dan loyal terhadap mereka menafikan keimanan sebagaimana firman Allah Ta'ala.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu) ; sebagaimana mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin ; maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim" [QS Al-Maidah 5:51]
Dan firmanNya.
"Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya" [QS Al-Mujadillah 58:22]
Kelima.
Berdasarkan paparan yang telah dikemukakan di atas, maka tidak boleh hukumnya seorang Muslim yang beriman kepada Allah sebagai Rabb dan Islam sebagai agama serta Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, mengadakan perayaan-perayaan hari-hari besar yang tidak ada landasannya dalam dien Islam, termasuk diantaranya pesta 'Milenium' rekaan tersebut. Juga, tidak boleh hadir pada acaranya, berpartisipasi dan membantu dalam pelaksanaannya dalam bentuk apapun karena hal itu termasuk dosa dan melampaui aturan-aturan Allah sedangkan Allah sendiri terlah berfirman, "Dan janganlah bertolong-tolongan di atas berbuat dosa dan melampaui batas, bertakwalah kepada Allah karena sesungguhnya Allah amat pedih siksaanNya" [QS Al-Maidah 5:2]
Keenam.
Seorang Muslim tidak boleh saling tolong menolong dengan orang-orang kafir dalam bentuk apapun dalam hari-hari besar mereka. Di antara hal itu adalah mempromosikan dan mengumumkan hari-hari besar mereka, termasuk pesta 'milenium' rekaan tersebut. Demikian pula, mengajak pada hal itu dengan sarana apapun baik melalui mass media, memasang jam-jam dan pamflet-pamflet bertuliskan angka, membuat pakaian-pakaian dan plakat-plakat kenangan, mencetak kartu-kartu dan buku-buku tulis sekolah, memberikan diskon khusus pada dagangan dan hadiah-hadiah uang dalam rangka itu, kegiatan-kegiatan olah raga ataupun menyebarkan symbol khusus untuk hal itu.
Ketujuh
Seorang Muslim tidak boleh menganggap hari-hari besar orang-orang kafir, termasuk pesta Milenium rekaan tersebut sebagai momentum-momentum yang membahagiakan atau waktu-waktu yang diberkahi sehingga karenanya meliburkan pekerjaan, menjalin ikatan perkawinan, memulai aktivitas bisnis, membuka proyek-proyek baru dan lain sebagainya. Tidak boleh dia meyakini bahwa hari-hari seperti itu memiliki keistimewaan yang tidak ada pada hari selainnya karena hari-hari tersebut sama saja dengan hari-hari biasa lainnya, dan karena hal ini merupakan keyakinan yang rusak yang tidak dapat merubah hakikat sesuatu bahkan keyakinan seperti ini adalah dosa di atas dosa, kita memohon kepada Allah agar diselamatkan di terbebas dari hal itu.
Kedelapan
Seorang Muslim tidak boleh mengucapkan selamat terhadap hari-hari besar orang-orang kafir karena hal itu merupakan bentuk kerelaan terhadap kebatilan yang tengah mereka lakukan dan membuat mereka bergembira, karenanya Ibnu Al-Qayyim berkata " Adapun mengucapkan selamat terhadap syi'ar-syi'ar keagamaan orang-orang kafir yang khusus bagi mereka, maka haram hukumnya menurut kesepakatan para ulama, seperti mengucapkan selamat dalam rangka hari-hari besar mereka dan puasa mereka, seperti mengucapkan 'Semoga hari besar ini diberkahi' atau ucapan semisalnya dalam rangka hari besar tersebut. Dalam hal ini, kalaupun pengucapnya lolos dari kekufuran akan tetapi dia tidak akan lolos dari melakukan hal yang diharamkan. Hal ini sama posisinya dengan bilamana dia mengucpkan selamat karena dia (orang kafir) itu sujud terhadap salib. Bahkan, dosa dan kemurkaan terhafap hal itu lebih besar dari sisi Allah ketimbang mengucapkan selamat atas minum khamr, membunuh jiwa yang tidak berdosa, berzina dan semisalnya. Banyak sekali orang yang tidak memiliki sedikitpun kadar dien pada dirinya terjerumus ke dalam hal itu dan dia tidak menyadari jeleknya perbuatannya. Maka, siapa saja yang mengucapkan selamat kepada seorang hamba karena suatu maksiat, bid'ah atau kekufuran yang dilakukannya, berarti dia telah mendapatkan kemurkaan dan kemarahan Allah"
Kesembilan.
Adalah suatu kehormatan bagi kaum Muslimin untuk berkomitmen terhadap sejarah hijrah Nabi mereka, Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam yang disepakati pula orang para sahabat beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam secara ijma' dan mereka jadikan kalender tanpa perayaan apapun. Hal itu kemudian diteruskan secara turun temurun oleh kaum Muslimin yang datang setelah mereka, sejak 14 abad yang lalu hingga saat ini. Karenaya seorang Muslim tidak boleh mengalihkan penggunaan kalender Hijriah kepada kelender umat-umat selainnya, seperti kalender Masehi ini ; karena termasuk perbuatan menggantikan yang lebih baik dengan yang lebih jelek. Dari itu kami wasiatkan kepada seluruh saudara-saudara kami, kaum Muslimin, agar bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-sebenar takwa, berbuat ta'at dan menjauhi kemaksiatan terhadapNya serta saling berwasiat dengan hal itu dan sabar atasnya.
Hendaknya setiap Mukmin yang menjadi penasehat bagi dirinya dan antusias terhadap keselamatannya dari murka Allah dan laknatNya di dunia dan Akhirat berusaha keras di dalam merealisasikan ilmu dan iman, menjadikan Allah semata sebagai Pemberi petunjuk, Penolong, Hakim dan Pelindung, karena sesungguhnya Dia-lah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. Cukuplah Rabbmu sebagai Pemberi Petunjuk dan Penolong serta berdo'alah selalu dengan do'a Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berikut ini.
"Ya, Allah, Rabb Jibril, Mikail, Israfil. Pencipta lelangit dan bumi. Yang Maha Mengetahui hal yang ghaib dan nyata. Engkau memutuskan hal yang diperselisihkan di antara para hambaMu, berilah petunjuk kepadaku terhadap kebenaran yang diperselisihkan dengan idzinMu, sesungguhnya Engkau menunjuki orang yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus" [6]
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad Wa Alihi Wa Shahbihi
[Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta, No. 21049, tgl. 12-08-1420]
__________
Foote Note
[1]. Dikelaurkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya, No. 11595, 13058, 13210. Sunan Abu Daud, kitab Ash-Shalah No. 1134, Sunan An-Nasa'i, Kitab Shalah Al-Iedain, No. 1556 dengan sanad yang shahih.
[2]. Dikeluarkan oleh Abu Daud, Kitab Al-Aiman Wa An-Nadzar, No. 3313 denan sanad shahih.
[3]. Dikeluarkan oleh Imam Al-Baihaqy No. 18640
[4]. Ibid No. 18641
[5]. 'Aun Al-Ma'bud Syarh Sunan Abi Daud, Syarh hadits no. 3512
[6]. Dikeluarkan oleh Imam Muslim di dalam shahihnya, Kitab Shalah Al-Musafirin, No. 770
[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Darul Haq]
kilroywink

Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi

Sebelum membahas lebih lanjut sekedar informasi supaya kita sebagai muslim bisa berhati-hati sebelum melakukan perbuatan. Sebab, berdasarkan kaidah fiqih dalam ajaran agama Islam, bahwa hukum asal suatu perbuatan adalah terikat dengan hukum syara (sayriat Islam). Itu sebabnya, sebelum melakukan suatu perbuatan kita harus tahu apakah perbuatan tersebut dihukumi sebagai perbuatan yang dibolehkan, diwajibkan, disunnahkan, diharamkan atau dihukumi sebagai makruh. Lalu apa hukumnya merayakan tahun baru masehi bagi seorang Muslim? Jawaban singkatnya adalah SSTBAH alias sangat sangat tidak boleh alias haram. TITIK.

Mengapa Tidak boleh atau HARAM?? Berikut penjelasannya.
Bahwa merayakan tahun baru masehi adalah bukan tradisi dari ajaran Islam. Meskipun jutaan atau miliaran umat Islam di dunia ini merayakan tahun baru masehi dengan sukacita dan lupa diri larut dalam gemerlap pesta kembang api atau melibatkan diri dalam hiburan berbalut maksiat tetap aja nggak lantas menjadikan tuh perayaan jadi boleh atau halal. Sebab, ukurannya bukanlah banyak atau sedikitnya yang melakukan, tapi patokannya kepada syariat.
Jadi, sekadar tahu aja nih, tahun baru masehi itu sebenarnya berhubungan dengan keyakinan agama Nasrani, lho. Masehi kan nama lain dari Isa Almasih dalam keyakinan Nasrani. Sejarahnya begini, menurut catatan di Encarta Reference Library Premium 2005, orang pertama yang membuat penanggalan kalender adalah seorang kaisar Romawi yang terkenal bernama Gaisus Julius Caesar. Itu dibuat pada tahun 45 SM jika mengunakan standar tahun yang dihitung mundur dari kelahiran Yesus Kristus.
 Tapi pada perkembangannya, ada seorang pendeta Nasrani yang bernama Dionisius yang kemudian? memanfaatkan penemuan kalender dari Julius Caesar ini untuk diadopsi sebagai penanggalan yang didasarkan pada tahun kelahiran Yesus Kristus. Itu sebabnya, penanggalan tahun setelah kelahiran Yesus Kristus diberi tanda AD (bahasa Latin: Anno Domini yang berarti: in the year of our lord) alias Masehi. Sementara untuk zaman prasejarahnya disematkan BC (Before Christ) alias SM (Sebelum Masehi).
 Nah, Pope (Paus) Gregory III kemudian memoles kalender yang sebelumnya dengan beberapa modifikasi dan kemudian mengukuhkannya sebagai sistem penanggalan yang harus digunakan oleh seluruh bangsa Eropa, bahkan kini di seluruh negara di dunia dan berlaku umum bagi siapa saja. Kalender Gregorian yang kita kenal sebagai kalender masehi dibuat berdasarkan kelahiran Yesus Kristus dalam keyakinan Nashrani. The Gregorian calendar is also called the Christian calendar because it uses the birth of Jesus Christ as a starting date, demikian keterangan dalam Encarta.
 Di zaman Romawi, pesta tahun baru adalah untuk menghormati Dewa Janus (Dewa yang digambarkan bermuka dua-ini bukan munafik maksudnya, tapi merupakan Dewa pintu dan semua permulaan. Jadi mukanya dua: depan dan belakang, depan bisa belakang bisa, kali ye?). Kemudian perayaan ini terus dilestarikan dan menyebar ke Eropa (abad permulaan Masehi).
Seiring muncul dan berkembangnya agama Nashrani, akhirnya perayaan ini diwajibkan oleh para pemimpin gereja sebagai satu perayaan suci sepaket dengan Natal. Itulah sebabnya mengapa kalo ucapan Natal dan Tahun baru dijadikan satu: Merry Christmas and Happy New Year, gitu lho.
 Nah, jadi sangat jelas bahwa apa yang ada saat ini, merayakan tahun baru masehi adalah bukan berasal dari budaya kita, kaum muslimin. Tapi sangat erat dengan keyakinan dan ibadah kaum Nashrani. Jangankan yang udah jelas perayaan keagamaan seperti Natal, yang masih bagian dari ritual mereka seperti tahun baru masehi dan ada hubungannya serta dianggap suci aja udah haram hukumnya dilakukan seorang muslim. Mengapa? Di antara ayat yang menyebutkan secara khusus larangan menyerupai hari-hari besar mereka adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
 YANG ARTINYA
 Dan orang-orang yang tidak memberikan perasaksian palsu (QS al-Furqaan 25:72)
Ayat ini berkaitan dengan salah satu sifat para hamba Allah yang beriman. Ulama-ulama Salaf seperti Ibnu Sirin, Mujahid dan ar-Rabi bin Anas menafsirkan kata az-Zuura (di dalam ayat tersebut) sebagai hari-hari besar orang kafir. Itu artinya, kalo sampe seorang muslim merayakan tahun baru masehi berarti melakukan persaksian palsu terhadap hari-hari besar orang kafir. Naudzubillahi min dzalik. Padahal, kita udah punya hari raya sendiri, sebagaimana dalam hadits yang shahih dari Anas bin Malik ra, dia berkata, saat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari besar (Ied) untuk bermain-main. Lalu beliau bertanya, Dua hari untuk apa ini? Mereka menjawab, Dua hari di mana kami sering bermain-main di masa jahiliyyah. Lantas beliau bersabda: Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian untuk keduanya dua hari yang lebih baik dari keduanya: Iedul Adha dan Iedul Fithri (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya, No. 11595, 13058, 13210)
Terus, boleh nggak sih kita merayakan tahun baru karena niatnya bukan menghormati kelahiran Yesus Kristus dalam keyakinan agama Nashrani? Ya, sekadar senang-senang aja gitu, sekadar refreshing deh. Hmm.. ada baiknya kamu menyimak ucapan Umar Ibn Khaththab: Janganlah kalian mengunjungi kaum musyrikin di gereja-gereja (rumah-rumah ibadah) mereka pada hari besar mereka karena sesungguhnya kemurkaan Allah akan turun atas mereka (Dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqy No. 18640) Umar ra. berkata lagi, Hindarilah musuh-musuh Allah pada momentum hari-hari besar mereka (ibid, No. 18641)
Dalam keterangan lain, seperti dari Abdullah bin Amr bin al-Ash ra, dia berkata, Barangsiapa yang berdiam di negeri-negeri orang asing, lalu membuat tahun baru dan festival seperti mereka serta menyerupai mereka hingga dia mati dalam kondisi demikian, maka kelak dia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama mereka (Aun al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Syarh hadits no. 3512)
 Nah, berkaitan dengan larangan menyerupai suatu kaum (baik ibadahnya, adat-istiadanya, juga gaya hidupnya), Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka (HR Imam Ahmad dalam Musnad-nya jilid II, hlm. 50).
At-Tasyabbuh secara bahasa diambil dari kata al-musyabahah yang berarti meniru atau mencontoh, menjalin atau mengaitkan diri, dan mengikuti. At-Tasybih berarti peniruan. Dan mutasyabihah berarti mutamatsilat (serupa). Dikatakan artinya serupa dengannya, meniru dan mengikutinya.
 Tasyabbuh yang dilarang dalam al-Quran dan as-Sunnah secara syar’i adalah menyerupai orang-orang kafir dalam segala bentuk dan sifatnya, baik dalam aqidah, peribadatan, kebudayaan, atau dalam pola tingkah laku yang menunjukkan ciri khas mereka. Hmm.. catet ye!
 Tahun baru, dosa baru?
Waduh, masa sih kita memulai bilangan tahun dengan dosa baru? Apalagi untuk dosa lama aja kita belum pernah melakukan tobatnya, tapi udah bikin dosa baru. Keterlaluan abis deh kalo sampe punya cita-cita seperti itu. Tapi kenyataannya, ternyata banyak di antara kita yang malah merayakan tahun baru masehi dengan melakukan aktifitas maksiat. Kasihan deh! Boys and gals, sebenarnya dalam pandangan Islam, untuk mengevaluasi diri selama ini udah ada tuntunannya dalam al-Quran, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (yang artinya):
 Demi Waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran (QS al-Ashr 103:1-3)
 Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
 Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan jelek amalannya. (HR Ahmad).
 Orang yang pasti beruntung adalah orang yang mencari kebenaran, orang yang mengamalkan kebenaran, orang yang mendakwahkan kebenaran dan orang yang sabar dalam menegakan kebenaran. Mengatur waktu dengan baik agar tidak sia-sia adalah dengan mengetahui dan memetakan, mana yang wajib, sunah, haram, mana yang makruh, dan mana yang mubah. Intinya kudu taat sama syariat Islam.
 Itu artinya perubahan waktu ini harusnya kita jadikan momentum (saat yang tepat) untuk mengevaluasi diri. Jangan malah hura-hura bergelimang kesenangan di malam tahun baru masehi. Sudahlah merayakannya haram, eh, caranya maksiat pula. Halah, apa itu nggak dobel-dobel dosanya? Naudzubillahi min dzalik!
 Sobat muda muslim, nggak baik hura-hura, lho. Hindari deh ya. Jangan sampe lupa diri. Itu sebabnya, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mewanti-wanti tentang dua hal yang bikin manusia tuh lupa diri. Sabda beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam: Ada dua nikmat, dimana manusia banyak tertipu di dalamnya; kesehatan dan kesempatan. (HR Bukhari).
 Nggak baik kalo kita nyesel seumur-umur akibat kita menzalimi diri sendiri. Sebab, kita nggak bakalan diberi kesempatan ulang untuk berbuat baik atau bertobat, bila kita udah meninggalkan dunia ini. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
 YANG ARTINYA
Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi. (QS ar-Rum 30:57).
 Jadi, nggak usah deh kita ikutan heboh merayakan tahun baru masehi. Kita evaluasi diri, dan itu dilakukan setiap hari biar lebih seru. Jangan nunggu pergantian tahun baru masehi, entar tobat belum eh udah mati duluan. Rugi berat! Yuk kita tingkatin terus amal baik kita, jangan cuma menumpuk dosa. Hari demi hari harus lebih baik. Yup, mari mulai sekarang juga untuk evaluasi diri. (gaulislam)
Sumber:http://alqurandansunnah.wordpress.com/2009/01/05/hukum-merayakan-tahun-baru-masehi/
kilroywink

1. Hukum Merayakan Tahun Baru Islam

Oleh Al ‘Allamah Asy-Syaikh Utsaimin Rahimahullah
Telah menjadi kebiasaan di tengah-tengah kaum muslimin memperingati Tahun Baru Islam. Sehingga tanggal 1 Muharram termasuk salah satu Hari Besar Islam yang diperingati secara rutin oleh kaum muslimin.
Bagaimana hukum memperingati Tahun Baru Islam dan menjadikan 1 Muharram sebagai Hari Besar Islam? Apakah perbuatan tersebut dibenarkan dalam syari’at Islam?
Berikut penjelasan Asy-Syaikh Al-’Allâmah Al-Faqîh Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn rahimahullahu Ta’ala ketika beliau ditanya tentang permasalahan tersebut. Beliau adalah seorang ahli fiqih paling terkemuka pada masa ini.
Pertanyaan :
Telah banyak tersebar di berbagai negara Islam perayaan hari pertama bulan Muharram pada setiap tahun, karena itu merupakan hari pertama tahun hijriyyah. Sebagian mereka menjadikannya sebagai hari libur dari bekerja, sehingga mereka tidak masuk kerja pada hari itu. Mereka juga saling tukar menukar hadiah dalam bentuk barang. Ketika mereka ditanya tentang masalah tersebut, mereka menjawab bahwa masalah perayaan hari-hari besar kembalinya kepada adat kebiasaan manusia. Tidak mengapa membuat hari-hari besar untuk mereka dalam rangka bergembira dan saling tukar hadiah. Terutama pada zaman ini, manusia sibuk dengan berbagai aktivitas pekerjaan mereka dan terpisah-pisah. Maka ini termasuk bid’ah hasanah. Demikian alasan mereka.
Bagaimana pendapat engkau, semoga Allah memberikan taufiq kepada engkau. Kami memohon kepada Allah agar menjadikan ini termasuk dalam timbangan amal kebaikan engkau.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn rahimahullahu Ta’ala menjawab :
تخصيص الأيام، أو الشهور، أو السنوات بعيد مرجعه إلى الشرع وليس إلى العادة، ولهذا لما قدم النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم المدينة ولهم يومان يلعبون فيهما فقال: «ما هذان اليومان»؟ قالوا: كنا نلعب فيهما في الجاهلية، فقال رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم: «إن الله قد أبدلكم بهما خيراً منهما: يوم الأضحى، ويوم الفطر». ولو أن الأعياد في الإسلام كانت تابعة للعادات لأحدث الناس لكل حدث عيداً ولم يكن للأعياد الشرعية كبير فائدة.
ثم إنه يخشى أن هؤلاء اتخذوا رأس السنة أو أولها عيداً متابعة للنصارى ومضاهاة لهم حيث يتخذون عيداً عند رأس السنة الميلادية فيكون في اتخاذ شهر المحرم عيداً محذور آخر. كتبه محمد بن صالح العثيمين
24/1/1418 هـ
Jawab :
Pengkhususan hari-hari tertentu, atau bulan-bulan tertentu, atau tahun-tahun tertentu sebagai hari besar/hari raya (‘Id) maka kembalinya adalah kepada ketentuan syari’at, bukan kepada adat. Oleh karena itu ketika Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam datang datang ke Madinah, dalam keadaan penduduk Madinah memiliki dua hari besar yang mereka bergembira ria padanya, maka beliau bertanya : “Apakah dua hari ini?” maka mereka menjawab : “(Hari besar) yang kami biasa bergembira padanya pada masa jahiliyyah. Maka Rasulullâh Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah telah menggantikan dua hari tersebut dengan hari raya yang lebih baik, yaitu ‘Idul Adh-ha dan ‘Idul Fitri.“
Kalau seandainya hari-hari besar dalam Islam itu mengikuti adat kebiasaan, maka manusia akan seenaknya menjadikan setiap kejadian penting sebagai hari raya/hari besar, dan hari raya syar’i tidak akan ada gunanya.
Kemudian apabila mereka menjadikan penghujung tahun atau awal tahun (hijriyyah) sebagai hari raya maka dikhawatirkan mereka mengikuti kebiasaan Nashara dan menyerupai mereka. Karena mereka menjadikan penghujung tahun miladi/masehi sebagai hari raya. Maka menjadikan bulan Muharram sebagai hari besar/hari raya terdapat bahaya lain.
Ditulis oleh : Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn
24 – 1 – 1418 H
[dinukil dari Majmû Fatâwâ wa Rasâ`il Ibni ‘Utsaimîn pertanyaan no. 8131]
Para pembaca sekalian,
Dari penjelasan di atas,  jelaslah bahwa memperingati Tahun Baru Islam dan menjadikan 1 Muharram sebagai Hari Besar Islam tidak boleh, karena :
- Perbuatan tersebut tidak ada dasarnya dalam Islam. Karena syari’at Islam menetapkan bahwa Hari Besar Islam hanya ada dua, yaitu ‘Idul Adh-ha dan ‘Idul Fitri.
- Perbuatan tersebut mengikuti dan menyerupai adat kebiasaan orang-orang kafir Nashara, di mana mereka biasa memperingati Tahun Baru Masehi dan menjadikannya sebagai Hari Besar agama mereka.
Oleh karena itu, wajib atas kaum muslimin agar meninggalkan kebiasaan memperingati Tahun Baru Islam. Sangat disesalkan, ada sebagian kaum muslimin berupaya menghindar dari peringatan Tahun Baru Masehi, namun mereka terjerumus pada kemungkaran lain yaitu memperingati Tahun Baru Islam. Lebih disesalkan lagi, ada yang terjatuh kepada dua kemungkaran sekaligus, yaitu peringatan Tahun Baru Masehi sekaligus peringatan Tahun Baru Islam.
Wallâhu a’lam bish shawâb
kilroywink

2. Hukum Memberi Ucapan “Selamat Tahun Baru Hijriyah”

Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah
Berikut fatwa berkaitan akan masuknya bulan Muharram:
سئل الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله ما حكم التهنئة بالسنة الهجرية وماذا يرد على المهنئ ؟ فأجاب رحمه الله :
إن هنّأك احد فَرُدَّ عليه ولا تبتديء أحداً بذلك هذا هو الصواب في هذه المسألة لو قال لك إنسان مثلاً نهنئك بهذا العام الجديد قل : هنئك الله بخير وجعله عام خير وبركه ، لكن لا تبتدئ الناس أنت لأنني لا أعلم أنه جاء عن السلف أنهم كانوا يهنئون بالعام الجديد بل اعلموا أن السلف لم يتخذوا المحرم أول العام الجديد إلا في خلافة عمر بن الخطاب رضي الله عنه. انتهى
المصدر إجابة السؤال رقم 835 من اسطوانة موسوعة اللقاء الشهري والباب المفتوح الإصدار الأول اللقاء الشهري لفضيلته من إصدارات مكتب الدعوة و الإرشاد بعنيزة
Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah ditanya :Apa hukum mengucapkan selamat tahun baru islam. Bagaimana menjawab ucapan selamat tersebut.
Syaikh menjawab: Jika seseorang mengucapkan selamat,maka jawablah, akan tetapi jangan kita yang memulai.Inilah pandangan yang benar tentang hal ini.Jadi jika seseorang berkata pada anda misalnya:”Selamat tahun baru!, anda bisa menjawab “Semoga Allah jadikan kebaikan dan keberkahan ditahun ini kepada anda” Tapi jangan anda yang mulai, karena saya tidak tahu adanya atsar salaf yang saling mengucapkan selamat hari raya. Bahkan Salaf tidaklah menganggap 1 muharram sebagai awal tahun baru sampai zaman Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu.

Selasa, 17 Desember 2013

Perayaan Natal 25 Desember Antara Dogma & Toleransi


ih-penulis
Oleh: Abu Ya'la Babussalam,Lc
PENDAHULUAN
 Perayaan Natal, sungguh wah dan gemerlap; dengan pohon-pohon cemara lengkap digantungkan hiasan-hiasan, kerlap-kerlip lampu, dan hadiah-hadiah di bawahnya. Malamnya, tepat pukul 24.00 dilakukan misa (kebaktian). Rumah-rumah pun dihias pohon cemara, juga toko dan plasa, gedung dan kantor. Acara-acara televisi marak oleh nuansa Natal. Instansi-instansi juga secara resmi merayakannya.
 Begitu semaraknya perayaan tersebut, sampai-sampai, paling tidak, membawa tiga kesan: Pertama, perayaan Natal yang jatuh padatanggal 25 Desember adalah sebuah ritus yang berlandaskan nilai kebenaran. Kedua, perayaan Natal telah mencapai "maqam" gengsi -simbol status sosial. Sebuah simbol yang membanggakan bagi orang yang merayakannya atau bagi mereka yang turut "berpartisipasi". Sebaliknya mereka yang tidak "menyambut" perayaan Natal, terkesan tidak prestisius. Ketiga, seolah-olah mayoritas penduduk negeri ini adalah kaum Nasrani. Padahal secara statistik, jumlah merekatak lebih dari 15 persen.
 Berbeda dengan realitas perayaannya yang gemerlap, sejarah Natal 25 Desember sendiri cukup buram. Hampir dapat dipastikan bahwa tidak banyak kalangan - termasuk kaum Kristen sendiri - yang paham tentang sejarah perayaan Natal yang ditetapkan pada tanggal 25 Desember tersebut. Salah satu sebabnya adalah tidak adanya literatur yang membeberkan tentang Natal. Jikalau ada hanya memuat keterangan bahwa Natal adalah perayaan orang Nasrani yang jatuh pada tanggal 25 Desember sebagai peringatan hari kelahiran Yesus.
 Langkanya literatur tentang Natal sebenarnya cukup menjadi alasan untuk bersikap kritis. Benarkah Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Desember? Jika jawabannya adalah ya, apa dasar hukumnya? Jika tidak bagaimana sejarah penetapan 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus, yang akhirnya diperingati sebagai perayaan Natal?
 YESUS DALAM SEJARAH BANGSA YAHUDI
 Sebelum membahas tentang perayaan Natal dan segala kontroversi yang menyertainya, terlebih dahulu perlu saya jelaskan latar belakang kesejarahan Yesus itu sendiri. Bahwa Yesus memang lahir dan hidup di kalangan bangsa Yahudi. Oleh karena itu, untuk bisa memahami sosok Yesus, harus paham terlebih dahulu bangsa Yahudi.
Bangsa Yahudi berkeyakinan bahwa mereka adalah "bangsa pilihan" Tuhan. Tuhan menciptakan alam semesta beserta isinya untuk kepentingan dan kesejahteraan mereka. Dan mereka merasa sebagai subjek, sedangkan bangsa lain cukup sebagai pelengkap penderita. Lebih lanjut hanya diri mereka yang dianggap "manusia", sedangkan bangsa lain hanyalah pembantu, budak, bahkan anjing.
 Keyakinan seperti itulah yang membuat mereka lebih dari bangsa lain, sombong, pongah, keras kepala, bahkan kejam.
Pernyataan-pernyataan seperti tersebut diatas, bukan sebuah dramatisasi belaka, melainkan bersumber dari Bibel sendiri diantaranya:
 "Kamu akan menjadi bagiKu kerajaan iman dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel." (Keluaran 9:6).
 "Engkau akan diberkati lebih daripada segala bangsa" (Ulangan 7:14).
 "Engkau harus melenyapkan segala bangsa yang diserahkan kepadamu oleh Tuhan, Allahhmu; janganlah engkau merasa sayang kepada mereka...."(Ulangan 7:16).
 "Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro Fenesia. la memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dan anaknya. Lalu Yesus berkata kepadanya: "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing. "Tetapi perempuan itu menjawab: "Benar Tuhan. Tetapi anjing yang dibawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak. "Maka kata Yesus kepada perempuan itu: "Karena kata-katamu itu pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu." (Markus 7:26-29).
 Pernyataan-pernyataan Bibel tersebut di atas menjelaskan betapa bangsa Yahudi menganggap diri mereka istimewa yaitu "bangsa pilihan Tuhan". Oleh karena itu mereka boleh berbuat apa saja terhadap bangsa lain, termasuk membantai (melenyapkan). Dan semua itu dilakukan atas nama Tuhan.
 Namun adakah suatu bangsa yang rela terus menerus ditindas, dijajah, ataupun diperbudak?  Demikian pula dengan bangsa Filistin (Palestina), penduduk asli negeri itu, yang setelah melalui perjuangan berat akhirnya bangsa Filistin menang. Kemenangan bangsa Filistin tersebut membuat keadaan menjadi terbalik. Bangsa Yahudi - sang penindas - kini dalam bayang-bayang tertindas. Maka mereka memohon agar Yahwe (Tuhan Israel) segera mengutus seorang Al Masih (Juru Selamat) agar mereka jaya dan berkuasa lagi.
 Sederetan Al Masih
Dari Bibel, khususnya dalam Perjanjian Lama, akan kita dapatkan bahwa Al Masih itu bukan hanya Yesus. Mereka antara lain:
 1. Saul Al Masih
 Saul yang berhasil mengalahkan Filistin diangkat sebagai Al Masih,
 "Bukankah Tuhan telah mengurapi engkau menjadi raja atas umatNya Israel? Engkau akan memegang tampuk pemerintahan atas umat Tuhan, dan engkau akan menyelamatkannya dari tangan musuh-musuh di sekitarnya. Inilah tandanya bagimu, bahwa Tuhan telah mengurapi engkau menjadi raja atas milikNya sendiri (I Samuel 10:1).
 2. Harun Al Masih
 Setelah Saul menjadi Al Masih, maka Harun (saudara Musa) juga diangkat sebagai Al Masih.
"Kemudian dituangkannya sedikit dari minyak urapan itu ke atas kepala Harun dan diurapinyalah dia untuk menguduskannya." (Imamat 8:12).
 3. Elisa Al Masih
 Kehadiran seorang Al Masih untuk masa ini ternyata tidak cukup, maka setelah Harun menjadi Al Masih, Elisa pun diangkat menjadi Al Masih.
 "Juga Yehu, cucu Nimzi, haruslah kau urapi menjadi raja atau Israel, dan Elisa bin Safat dari Abel Mehola, harus kau urapi menjadikan Nabi menggantikan Engkau." (7 Raja-raja 19:16).
 4. Daud Al Masih
Setelah Saul meninggal dunia, maka sesepuh suku-suku Israel mengangkat Daud sebagai Al Masih. "Maka datanglah semua tua-tua Israel menghadap raja lalu raja Daud mengadakan perjanjian dengan mereka di Hebron di hadapan Tuhan; kemudian mereka mengurapi Daud menjadi raja atas Israel." (II Samuel 5:3).
 5. Salomo Al Masih
 Setelah Daud meninggal dunia, maka Salomo putra Daud diangkat sebagai Al Masih. Sebagaimana tercantum dalam I Raja-raja 1:39.
 "Imam Zadok telah membawa tabung tanduk berisi minyak dari dalam kemah, lalu diurapinya Salomo. Kemudian sangkakala ditiup, dan seluruh rakyat berseru "Hidup Raja Salomo."
 6. Koresy Al Masih
Raja Syrus penyembah berhala ini diangkat sebagai Al Masih setelah meninggalnya Salomo.
"Beginilah firman Tuhan: Inilah firmanKu kepada orang yang Kuurapi, kepada Koresy yang tangan kanannya kupegang supaya Aku menundukkan bangsa-bangsa di depannya dan melucuti raja-raja, supaya Aku membuka pintu-pintu di depannya dan supaya pintu gerbang tidak tinggal tertutup." (Yesaya 45:1).
 Ayat ini dialamatkan kepada Raja Syrus yang pagan, untuk memenuhi kerinduan akan datangnya penyelamat, walaupun pada kenyataannya ayat tersebut adalah nubuat dari nabi Yesaya akan datangnya seorang Koresy (Quraisy) sebagai nabi akhir, yaitu Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Amatlah mustahil jika Tuhan menyayangi seorang kafir untuk diurapi.Apalagi ternyata bahwa belum lama bangsa Yahudi dipimpin oleh Al Masih yang kafir, situasi keamanan dan politik berubah kembali dengan datangnya serbuan pasukan Romawi. Maka kembali lagi seperti pada peristiwa sebelumnya, yakni ketika bangsa Israel menangis, meraung, dan memohon kepada Yahwe untuk diberi Al-Masih atau seorang Juru Selamat untuk membebaskan mereka dari cengkeraman bangsa Romawi. Maka mereka berangan-angan dan menyusun kriteria Al Masih.
Orang-orang Israel akhirnya mengadakan kesepakatan bahwa Al Masih adalah seorang yang merupakan:
  1. Raja-raja terdahulu yang dianggap "bangkit" dari kubumya, antara lain: Daud Yesekhiel, Yosafat, atau.
  2. Nabi yang "dibangkitkan", misalnya Elia atau Elisa.
  3. (Harus) Keturunan Daud dan Sulaiman.
 Disamping tiga kriteria tersebut, bangsa Israel juga mempunyai penghayatan bahwa kelahiran seorang pahlawan (Juru Selamat) haruslah lahir dari seorang perawan, sebagaimana pahlawan-pahlawan bangsa terduhulu yang juga terlahir dari seorang perawan.
 Yesus Keturunan Daud?
 Bibel selalu mengatakan bahwa Yesus adalah anak Daud. Nubuat tentang keturunan Daud yang akan berkuasa antara lain: II Samuel 7:12-13 dan I Tawarikh 17:1 1-12:
 "Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi namaKu dan Aku akan mengokohkan tahta kerajaanya untuk selama-lamanya."
 Demikian pula Kisah Para Rasul 2:30
 ".... Bahwa la akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas tahtanya" 8 9
Padahal, dengan garis keturunannya (silsilah), terbukti bahwa Yesus bukan keturunan Daud,karena Maryam bukan keturunan Daud. Yang merupakan keturunan Daud adalah Yusuf, yang oleh Bibel disebut sebagai tunangan Maria (Maryam), Silsilah itu sendiri juga mengandung perbedaan. Matius (1:6-16) menurut 28 orang sedangkan menurut Lukas (3:23-31) 43 orang. Jadi terdapat selisih 15 generasi.
 Lantas mengapa Bibel membuat kekeliruan seperti itu? Sejarah menyatakan bahwa bangsa Israel merasa dirinya sebagai "bangsa pilihan" telah berabad-abad mengalami penindasan dan penjajahan bangsa-bangsa Babilonia, Yunani, Siria dan Romawi. Oleh karena itu mereka selalu terkenang pada zaman keemasan di bawah kepemimpinan Daud dan berharap datangnya "Raja Israel" dari keturunan Daud yang akan melepaskan mereka dari kesengsaraan.
 Jelas bahwa pengikatan Isa-Yusuf-Daud adalah rekayasa untuk melegitimasi bahwa Yesus adalah keturunan Daud, Al Masih yang dinanti-nantikan sebagai juru Selamat.
 YESUS DAN KONTROVERSI KELAHIRANNYA
 Yesus dalam tradisi sejarah umat Islam sebenarnya adalah Isa Al Masih putra Maryam. Sebutan "Isa" (dalam bahasa Arab) berasal dari bahasa Ibrani dari kata "Esau". Dalam bahasa Latin nama itu menjadi "Yesus". Munculnya nama Yesus terjadi pada peristiwa pengadilan Isa Al Masih oleh mereka yang hadir dengan menambahkan huruf "J" pada awal dan "S" pada akhir kata "Esau" sehingga menjadi Yesus. Nama Yesus baru populer pada abad ke-2. Populernya nama Yesus akhirnya menenggelamkan nama asli Esau di kalangan Kristen. Sedangkan Al Qur'an dan umat Islam tetap mempertahankan nama Esau (Isa dalam dialek Arab).
Sedangkan kata Masyiakh, Messiah, atau Mesyah berasal dari bahasa Arab dari kata masaha dengan tiga huruf mati yang dikandungnyayaitu: m-s-h yang berarti mengusap. Dalam perkembangan selanjutnya orang Yunani mengubah sebutan Messiah bagi Isa menjadi Kristos yang berarti yang disiram dengan minyak (diurapi). Oleh orang Eropa, Yesus disebut Christus atau Kristus, yaitu Sang Penyelamat atau Sang Penebus Dosa.
 Perdebatan Seputar "Ayah" Yesus
 Keajaiban kelahiran Yesus ke dunia menjadi bahan aktual dalam diskusi. Sebagian ada yang mengatakan bahwa Yesus itu darah daging Yusuf tunangan Maria (Maryam). Oleh karena itu - seperti sudah saya jelaskan (kekeliruannya) di depan - Yesus memiliki silsilah dari Yusuf, dengan nenek moyang Daud. Bibel sendiri rupanya masih bingung terhadap status "ayah" Yesus.  Pada suatu kesempatan Yusuf itu diakui sebagai tunangan Maryam (Matius 1:18), tapi dilain kesempatan juga diakui sebagai suami Maryam (Matius 1:19). Terhadap persoalan ini, sebagian orang Yahudi sangat ekstrem dengan menuduh bahwa Yesus adalah anak haram, hasil hubungan gelap Maryam dengan Yusuf.
 Sebagian lagi ada yang berpendirian bahwa Yesus itu dilahirkan secara murni suci, tanpa campur tangan (unsur jantan) manusia. Oleh karena itu Yesus adalah "anak Tuhan". Tetapi pihak yang berpendapat demikian juga bertentangan dalam memahami dan menafsirkan kata "anak Tuhan" tersebut. Di satu pihak memahaminya secara harfiyah (literal), bahwa Yesus adalah anak secara "biologis", yakni anak yang kejadiannya memerlukan campur tangan Tuhan secara langsung kepada Maryam melalui ruh yang suci. Pemikiran tersebut nantinya melahirkan konsep ketuhanan "Trinitas": Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Tuhan Roh Suci. Akan tetapi sebagian pihak memahaminya secara kiasan (metafora). Bahwa anak, bukan dalam pengertian "biologis" atau nasab, melainkan kiasan saja. Pendapat seperti ini didasarkan oleh adanya penyebutan anak yang bukan hanya kepada Yesus, sebagaimana penjelasan Bibel di bawah ini:
 "Maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil istri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka. " (Kejadian 6:2).
 "Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka." (Kejadian 6:4).
 "Aku mau menceritakan tentang ketetapan Tuhan; la berkata kepadaku: "AnakKu engkau! Engkau telah kuperanakkan pada hari ini." (Mazmur 2:7).
 "Dengan menangis mereka akan datang, dengan hiburan Aku akan membawa mereka; Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, dijalan yang rata, dimana mereka tidak akan tersandung; sebab Aku telah menjadi bapa Israel. Efraim adalah anak sulungku." (Jeremia 31:9).
 "Anak Eros, anak Set, Anak Adam, Anak Allah, "(Lukas 3:38).
 "Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah ."(Roma 8:14).
 "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka itu akan disebut anak-anak Allah." (Matius 5:9).
 "Aku sendiri telah berfirman;"Kamu adalah Allah, dan anak-anak yang Maha Tinggi kamu sekalian" (Mazmur 82:6).
 Dari paparan ayat-ayat tersebut diatas, jelaslah bahwa istilah "anak Alah" adalah ungkapan khas orang Yahudi kepada umatnya, dan jumlahnya banyak, bukan hanya Yesus.
 Islam Tentang Isa dan Maryam
 Islam dengan tegas menolak semua tuduhan yang tidak benar mengenai Maryam dan putranya. Islam bahkan menjunjung tinggi keduanya. Marilah kita telaah penjelasan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam AI Qur'an:
 "Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Qur'an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu kami mengutus ruh kami (Jibril) kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata; Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertaqwa. la (Jibril) berkata: Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci. Maryam berkata: Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorangpun manusia menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina. Jibril berkata: Demikianlah, Tuhanmu berfirman: Hal itu mudah bagiKu; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan. Maka Maryam mengandungnya, laiu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ketempat yang jauh." ( QS Maryam  19:16-22)
 "Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)." (QS Ali lmran 3-42)
 "Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat munkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina. Maka Maryam menunjuk kepada anaknya, Mereka berkata: Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan? Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku Nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali. Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: Jadilah, makajadi ia. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus." (QS Maryam 19:27-36).
 SEJARAH NATAL
 Kata natal berasal dari bahasa Latin yang berarti lahir. Secara istilah Natal berarti upacara yang dilakukan oleh orang Kristen untuk memperingati hari kelahiran Isa Al Masih – yang merekasebut Tuhan Yesus.
 Peringatan Natal baru tercetus antara tahun 325-354 oleh Paus Liberius, yang ditetapkan tanggal 25 Desember, sekaligus menjadi momentum penyembahan Dewa Matahari, yang kadang juga diperingati pada tanggal 6 Januari, 18 Oktober, 28 April, atau 18 Mei. Oleh Kaisar Konstantin, tanggal 25 Desember tersebut akhirnya disahkan sebagai kelahiran Yesus (Natal).
 Kelahiran Yesus Menurut Bibel
Untuk menyibak tabir Natal pada tanggal 25 Desember yang diyakini sebagai Hari Kelahiran Yesus, marilah kita simak apa yang diberitakan oleh Bibel tentang kelahiran Yesus sebagaimana dalam Lukas 2:1-8 dan Matius 2:1, 10, II (Markus dan Yohanes tidak menuliskan kisah kelahiran Yesus). 
Lukas 2:1-8:
 Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.
 Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria.Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing dikotanya sendiri.
 Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galileo ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud - supaya didaftarkan bersamasama dengan Maria, tunangannya yang sedang mengandung.
 Ketika mereka disitu tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya didalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka dirumah penginapan.
 Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.
Jadi, menurut Bibel, Yesus lahir pada masa kekuasaan Kaisar Agustus yang saat itu yang sedang melaksanakan sensus penduduk (7M = 579 Romawi). Yusuf, tunangan Maryam ibu Yesus berasal dari Betlehem, maka mereka bertiga ke sana, dan lahirlah Yesus Betlehem, anak sulung Maria.  Maria membungkusnya dengan kain lampin dan membaringkannya dalam palungan (tempat makanan sapi, domba yang terbuat dari kayu).Peristiwa itu terjadi pada malam hari dimana gembala sedang menjaga kawanan ternak mereka di padang rumput.
 Menurut Matius 2:1, 10, 11
 Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman Herodus, datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem.
Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersuka citalah mereka. Maka masuklah mereka kedalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibunya.
Jadi menurut Matius, Yesus lahir dalam masa pemerintahan raja Herodus yang disebut Herodus Agung yang memerintah tahun 37 SM-4 M (749 Romawi), ditandai dengan bintang-bintang yang terlihat oleh orang-orang Majusi dari Timur.
 Cukup jelas pertentangan kedua Injil tersebut  (Lukas 2:1-8 dan Matius 2:1, 10, II) dalam menjelaskan kelahiran Yesus. Namun begitu keduanya menolak kelahiran Yesus tanggal 25 Desember. Penggambaran kelahiran yang ditandai dengan bintang-bintang di langit dan gembala yang sedang menjaga kawanan domba yang dilepas bebas di padang rumput beratapkan Iangit dengan bintang-bintangnya yang gemerlapan, menunjukkan kondisi musim panas sehingga gembala berdiam di padang rumput dengan domba-domba mereka pada malam hari untuk menghindari sengatan matahari. Sebab jelas 25 Desember adalah musim dingin. Sedang suhu udara di kawasan Palestina pada bulan Desember itu sangat rendah sehingga salju merupakan hal tidak mustahil.
Bagi yang memiliki wawasan luas, hati terbuka dan lapang dalam mencari kebenaran, kitab suci Al Qur'an telah memberikan jawaban tentang kelahiran Yesus (Isa ‘alaihissalam).
 "Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (Maryam) bersandar pada pangkal pohon kurma, ia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan".  Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai dibawahmu (untuk minum). Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu kearahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu." (QS Maryam 19:3-25)
 Jadi menurut Al Qur'an Yesus dilahirkan pada musim panas disaat pohon-pohon kurma berbuah dengan lebatnya. Untuk itu perlu kita cermati pendapat sarjana Kristen Dr. Arthus S. Peak, dalam Commentary on the Bible - seperti dikutip buku Bible dalam Timbangan oleh Soleh A. Nahdi (hal 23): Yesus lahir dalam bulan Elul (bulan Yahudi), bersamaan dengan bulan: Agustus - September.
Sementara itu Uskup Barns dalam Rise of Christianity - seperti juga dikutip oleh Soleh A. Nahdi oerpendapat sebagai berikut:
 There is, moreover, no authority for the belief than December 25 was the actual bithday of Jesus. If we can give any credence to the bith-story of Luke, with the shepherds keeping watch by night in the fields near Berhlehem, the birth of Jesus did not take place in winter, when the night temperature is so low in the hill country ofjudea that snow is not uncommon. After much argument our Christmas day seems to have been accepted abaut A.D.300.
 (Kepercayaan, bahwa 25 Desember adalah hari lahir Yesus yang pasti tidak ada buktinya. Kalau kita percaya cerita Lukas tentang hari lahir itu dimana gembala-gembala waktu malam menjaga di padang di dekat Bethlehem, maka hari lahir Yesus tentu tidak di musim dingin di saat suhu di negeri pegunungan Yudea amat rendah sekali sehingga salju merupakan hal yang tidak mustahil. Setelah terjadi banyak perbantahan tampaknya hari lahir tersebut diterima penetapannya kira-kira tahun 300 Masehi).
Pada Tahun Berapa Yesus Lahir?
 Umat Kristen beranggapan bahwa Yesus dilahirkan pada tahun I, karena penanggalan Masehi yang dirancang oleh Dionysius justru dibuat dan disesuaikan dengan tahun kelahiran Yesus. Namun Injil Lukas 2:1 (telah dikutip sebelumnya) menyatakan Yesus lahir dalam masa pemerintahan Kaisar Agustus jadi antara tahun 27 Sebelum Masehi - 14 Sesudah Masehi. Sedangkan Matius 2:1 (juga telah dikutip) menyatakan Yesus lahir dalam masa pemerintahan raja Herodes Agung: tahun 37 Sebelum Masehi - 4 sesudah Masehi.
 Ternyata antara pemahaman yang beredar di kalangan umat Kristen tentang kelahiran Yesus dengan berita yang disampaikan oleh Injil, Lukas maupun Matius, tidaklah menunjukkan suatu kepastian, sehingga ilmuwan-ilmuwan mereka ada yang menyatakan Yesus lahir tahun 8 Sebelum Masehi, tahun 6 Sebelum Masehi, tahun 4 sesudah Masehi. Antara lain kita kutip buku tulisan Rev. Dr. Charles Franciss Petter, MA., B.D., S.T.M. yang berjudul, The Lost Years of Jesus Revealed hal 119 sebagai berikut:
 In the nineteenth century, when it became evident and was finally admitted that Herod died in the year 4 B.C., and it was recalled that, according to story in Matthew's Gospel (2:16), King Herod, in order to eliminate little Jesus as a possible "King of the Jews", had ordered all infants of two years old and under to be killed, the birth-date of Jesus obviously had to be moved back to 4 B.C. at least. Today, scholars prefer 5 to 6 B.C. as the date best accomodating the inconsistent and even contradictory traditions, legends, and gospels, although some historians push the date back to 8 and 10 B.C. The problem of the correct dating of Jesus' birth, life, and death has now been raised again (due to several statements in these Essene Scrolls) along with the related question on the deity.
 (Pada abad ke-19 setelah terbukti dan akhirnya diakui bahwa Herodes telah mati 4 tahun sebelum masehi dan setelah ditetapkan, bahwa menurut cerita Matius (2:16) raja Herodes memerintahkan pembunuhan kanak-kanak umur/dibawah umur dua tahun untuk membinasakan Yesus yang masih bayi yang katanya bakal jadi raja orang-orang Yahudi, maka jelaslah tanggal lahir Yesus harus digeser ke belakang, paling sedikit 4 tahun sebelum masehi. Masa kini para sarjana lebih condong menggeserkan tanggal lahirnya Yesus itu 5 sampai 6 tahun ke belakang tahun Masehi. Kesulitan menentukan tanggal kelahiran Yesus, kehidupannya, dan kematiannya terpaksa ditimbulkan kembali karena adanya keterangan-keterangan yang banyak terdapat dalam gulungan-gulungan Essene (yang terdapat di gua Qamran) malah soal-soal yang berhubungan dengan ketuhanannya juga harus dibangkitkan kembali).
 Jadi sampai hari inipun tidak ada kejelasan tahun berapa Yesus dilahirkan.
 Asal Usul Perayaan Natal 25 Desember
Perintah untuk menyelenggarakan peringatan Natal tidak ada dalam Bibel dan Yesus tidak pernah memberikan contoh ataupun memerintahkan pada muridnya untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya.
 Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen Katolik pada abad ke-4 M. Dan peringatan inipun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Dimana kita ketahui bahwa abad ke-l sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politheisme.
Ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Katholik, mereka tidak mampu meninggalkan adat/budaya pagannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari Sunday (sun = matahari; day=hari) yaitu kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember.
Maka supaya agama Katholik bisa diterima dalam kehidupan masyarakat Romawi diadakanlah sinkretisme (perpaduan agama-budaya / penyembahan berhala), dengan cara menyatukan perayaan kelahiran Sun of God (Dewa Matahari) dengan kelahiran Son of God (Anak Tuhan = Yesus).
Maka pada Konsili tahun 325, Konstantin memutuskan dan menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus. Juga diputuskan: Pertama, hari Minggu (Sunday = hari matahari) dijadikan pengganti hari Sabat yang menurut hitungan jatuh pada Sabtu. Kedua, lambang dewa matahari yaitu sinar yang bersilang dijadikan lambang Kristen. Ketiga, membuat patung-patung Yesus untuk menggantikan patung Dewa Matahari.
Sesudah Kaisar Konstantin memeluk agama Katolik pada abad ke- 4 Masehi, maka rakyat pun beramai-ramai ikut memeluk agama Katholik. Inilah prestasi gemilang hasil proses sinkretisme Kristen oleh Kaisar Konstantin dengan agama paganisme politheisme nenek moyang.
 Demikian asal-usul Christmas atau Natal yang dilestarikan oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia sampai sekarang.
 Darimana kepercayaan paganis politheisme mendapat ajaran tentang Dewa Matahari yang diperingati tanggal 25 Desember?
 Mari kita telusuri melalui Bibel maupun sejarah kepercayaan paganis yang dianut oleh bangsa Babilonia kuno didalam kekuasaan raja Nimrod (Namrud).
H.W. Armstrong dalam bukunya The Plain Truth About Christmas, Worldwide Church of God, Calofornia USA, 1994, menjelaskan:
 Namrud cucu Ham, anak nabi Nuh adalah pendiri sistem kehidupan masyarakat Babilonia kuno. Nama Nimrod dalam bahasa Hebrew (Ibrani) berasal dari kata "Marad" yang artinya: "Dia membangkang atau Murtad antara lain dengan keberaniannya mengawini ibu kandungnya sendiri bernama "Semiramis".
 Namun usia Namrud tidak sepanjang ibu sekaligus istrinya. Maka setelah Namrud mati Semiramis menyebarkan ajaran, bahwa roh Namrud tetap hidup selamanya, walaupun jasadnya telah mati. Maka dibuatlah olehnya perumpaan pohon "Evergreen" yang tumbuh dari sebatang kayu mat's.
 Maka untuk memperingati kelahirannya dinyatakan bahwa Namrud selalu hadir di pohon Evergreen dan meninggalkan bingkisan yang digantungkan di ranting-ranting pohon itu. Sedangkan kelahiran Namrud dinyatakan tanggal 25 Desember. Inilah asal-asul pohon Natal.
Lebih lanjut Semiramis dianggap sebagai "Ratu Langit" oleh rakyat Babilonia, kemudian Namrud dipuja sebagai "anak suci dari surga".
 Putaran zaman menyatakan bahwa penyembah berhala versi Babilonia ini berubah menjadi "Mesiah palsu", berupa dewa "Ba-al" anak dewa matahari dengan obyek penyembahan "Ibu dan Anak" (Semiramis dan Namrud) yang lahir kembali.  Ajaran tersebut menjalar ke negara lain: Di Mesir berupa "Isis dan Osiris", di Asia bernama "Cybele dan Deoius", di Roma disebut Fortuna dan Yupiter". Bahkan di Yunani, "Kwan Im" di Cina, Jepang, dan Tibet, India, Persia, Afrika, Eropa, dan Meksiko juga ditemukan adat pemujaan terhadap dewa "Madonna" dan Iain-Iain.
 Dewa-dewa berikut dimitoskan lahir pada tanggal 25 Desember, dilahirkan oleh gadis perawan (tanpa bapak), mengalami kematian (salib) dan dipercayasebagai Juru Selamat (Penebus Dosa):
  1. Dewa Mithras (Mitra) di Iran, yang juga diyakini dilahirkan dalam sebuah gua dan mempunyai 12 orang murid. Dia juga disebut sebagai Sang Penyelamat, karena ia pun mengalami kematian, dan dikuburkan, tapi bangkit kembali.  Kepercayaan ini menjalar hingga Eropa. Konstantin termasuk salah seorang pengagum sekaligus penganut kepercayaan ini.
  2. Apollo, yang terkenal memiliki 12 jasa dan menguasai 12 bintang/planet.
  3. Hercules yang terkenal sebagai pahlawan perang tak tertandingi.
  4. Ba-al yang disembah orang-orang Israel adalah dewa penduduk asli tanah Kana'an yang terkenal juga sebagai Dewa Kesuburan.
  5. Dewa Ra, sembahan orang-orang Mesir kuno; kepercayaan ini menyebar hingga ke Romawi dan diperingati secara besar-besaran dan dijadikan sebagai pesta rakyat.
 Demikian juga Serapsis, Attis, Isis, Horus, Adonis, Bacchus, Krisna, Osiris, Syamas, Kybele dan ain-lain. Selain itu ada lagi tokoh/pahlawan pada suatu bangsa yang oleh mereka diyakini dilahirkan oleh perawan, antara lain Zorates (bangsa Persia) dan Fo Hi (bangsa Cina). Demikian pula pahlawanoahlawan Helenisme: Agis, Celomenes, Eunus, Soluius, Aristonicus, Tibarius, Grocecus, Yupiter, Minersa, Easter.
Jadi, Konsep bahwa Tuhan itu dilahirkan seorang perawan pada tanggal 25 Desember, disalib/dibunuh kemudian dibangkitkan, sudah ada sejak zaman purba.
Konsep/dogma agama bahwa Yesus adalah anak Tuhan dan bahwa Tuhan mempunyai tiga pribadi, dengan sangat mudahnya diterima oleh kalangan masyarakat Romawi karena mereka telah memiliki konsep itu sebelumnya. Mereka tinggal mengubah nama-nama dewa menjadi Yesus. Maka dengan jujur Paulus mengakui bahwa dogma-dogma tersebut hanyalah kebohongan yang sengaja dibuatnya. Kata Paulus kepada jemaat di Roma:
Tetapi jika kebesaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliannya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa? (Roma 3:7).
Mengenai kemungkinan terjadinya pendustaan itu, Yesus telah mensinyalir lewat pesannya:
Jawab Yesus kepada mereka : Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai namaku dan berkata Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang". (Matius 24:4-5).
 Pandangan Bibel Tentang Upacara Natal
Untuk mengetahui pandangan Bibel tentang perayaan Natal yang diwarisi dari tradisi paganisme, baiklah kita telaah Yeremia 10:2-4:
 "Beginilah firman Tuhan: "Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun bangsa-bangsa gentar terhadapnya. Sebab yang disegani bangsa-bangsa adalah kesia-siaan.  Bukankah berhala itu pohon kayu yang ditebang orang dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tukang kayu? Orang memperindahnya dengan emas dan perak; orang memperkuatnya dengan paku dan palu supaya jangan goyang."
 Demikianlah pandangan Bibel tentang upacara Natal, yaitu melarang orang Kristen mengikuti kebiasaan bangsa-bangsa penyembah berhala.
Selanjutnya mari kita simak penjelasan dalam Yeremia 10:5.
 "Berhala itu sama seperti orang-orangan di kebun mentimun. Tidak dapat berbicara; orang harus mengangkatnya, sebab tidak dapat melangkah. Janganlah takut kepadanya, sebab berhala itu tidak dapat berbuat jahat, dan berbuat baik pun dia tidak dapat."
Sumber-sumber Kristen yang Menolak Natal
 1. Catolic Encyclopedia, edisi 1911 tentang Christmas:
 "Natal bukanlah upacara gereja yang pertama ... melainkan ia diyakini berasal dari Mesir, perayaan yang diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus."
Dalam buku yang sama, tentang "Natal Day" dinyatakan sebagai berikut:
 "Di dalam kitab suci tidak ada seorangpun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Fir'aun dan Herodes) yang berpesta pora merayakan hari kelahirannya ke dunia ini."
 2. Encyclopedia Britanica, edisi 1946 menyatakan:
 "Natal bukanlah upacara gereja abad pertama, Yesus Kristus atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakannya, dan Bibeljuga tidak pernah menganjurkannya. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan kafir penyembah berhala."
 3. Encyclopedia Americana, edisi tahun 1944, menyatakan:
 "Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut..."
 (Perjamuan Suci, yang termaktub dalam kitab Perjanjian Baru hanyalah untuk mengenang kematian Yesus Kristus) .. Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad ke-4 M. Pada abad ke-5 M. Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari "Kelahiran Dewa Matahari". Sebab tidak seorangpun mengetahui hari kelahiran Yesus."
 PANDANGAN TIGA AGAMA TENTANG YESUS
 Yahudi

  1. Yesus lahir dari perbuatan zina; mengaku menjadi Mesias yang dinantikan bani Israel.
  2. Yesus layak mati disalib sebagai hukuman terhadap pengakuannya sebagai Mesias.
 Kristen
  1. Yesus adalah Tuhan putra, pribadi kedua Tuhan.
  2. Yesus mengalami kematian di kayu salib untuk menebus dosa warisan umat manusia.
 Islam
  1. Yesus lahir karena ketentuan Allah (kalimat Allah), dilahirkan ibundanya, Siti Maryam binti Imran dalam keadaan suci (fitrah).
  2. Yesus adalah salah seorang utusan Allah, bukan Tuhan, sebagaimana penjelasan surat Al Maidah 5:73.
 "Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwasanya Allah salah satu dari tiga, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Maha Esa.  Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang kafir diantara mereka akan tertimpa siksaan yang pedih."
    3. Yesus diselamatkan Allah dari kematian di kayu salib.
 MENATA SIKAP
Dengan menyadari segala kekeliruan dogma seperti yang telah saya paparkan di atas, maka sepantasnya jika kita memperbaharui keyakinan kita.
 Pertama, bahwa Yesus bukan "anak Tuhan", dan bukan "Tuhan" itu sendiri.
 Kedua, Yesus (Isa Al Masih putra Maryam), tidak dilahirkan pada tanggal 25 Desember. Penetapan kelahiran beliau pada tanggal tersebut hanyalah hasil adopsi ajaran paganisme politheisme.
 Ketiga, sikap toleransi terhadap agama-agama bukan berarti meyakini, apalagi mengikuti, ajaran agama-agama tersebut. Maka, selalu relevan untuk memahami Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang Perayaan Natal Bersama.
 Keempat, oleh karena itu, keyakinan bahwa "25 Desember adalah hari lahir Tuhan Yesus", yang terbukti batal itu, tidak sah dijadikan propaganda toleransi. Artinya arti toleransi menjadi salah jika masuk pada wilayah membenarkan keyakinan agama lain. Maka aplikasi dari sikap ini adalah bahwa umat Islam sama sekali tidak berhak ikut, bahkan menyambut atau berpartisipasi, terhadap perayaan Natal yang dibesar-besarkan gaungnya setiap Desember.

Minggu, 08 Desember 2013

Sejarah Kapitalisme


Tiga Komitmen Bisnis Yahudi – Iman Kitab Sucinya, Bersatu, Hormati Ibu
Oleh Ustadz Abu Ya'la Babussalam,Lc
kel.rothschildSesungguhnya telah ribuan kali isu kelahiran kapitalisme telah ditulis, namun petunjuk yang kuat dan mutlak tentang adanya hubungan Yahudi dengan kelahiran Kapitalisme dapat dipastikan sebagai berikut, dari sejarah Rothschilds:
Meyer Amschel Rothschild adalah seorang bankir Yahudi yang tinggal di Frankfurt yang telah menjadi sangat kaya setelah Willian IX, tuan tanah Hesse, mempercayakan kekayaannya sekitar 600,000 Pounds untuk disimpankan, beberapa waktu setelah Napoleon menyerbu Jerman dan beberapa waktu sebelum Napoleon mencapai Frankfurt.
Rothschild, dengan bantuan salah satu dari kelima anaknya – Nathan, yang telah sukses menjadikan dirinya sebagai bankir dan keuangan di London, mengivestasikan uang tersebut secara hati-hati dan telah meningkatkan kekayaannya dengan sangat mudah, dan uang yang diperolehnya atas usaha yang dilakukan oleh anaknya  menjadi basis atas kekayaan yang luar biasa yang diperolehnya dikemudian hari.
Dikatakan ketika Mr. Rothschild sedang menanti ajal, dia memanggil kelima anak-anaknya dan dengan nafas-nafas terakhirnya, setelah mendoakan anak-anaknya, menasehati mereka:
  1. untuk tetap beriman kepada undang-undang Musa,
  2. tetap bersatu sampai akhir hayat,
  3. dan tidak mengambil suatu tindakan apapun tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan ibu mereka.
“Pelajari ketiga poin ini dan kalian akan segera menjadi kaya diantara yang terkaya, dan dunia akan kalian miliki.” – ramalan yang terbukti dikemudian hari. ***
Kelima anak-anaknya melanjutkan bisnis keluarga  setelah kematian Rothschild dalam tahun 1812, dan menjelma menjadi perusahaan yang besar, sebagai akibat didirikannya cabang-cabang dalam 5 bidang usaha komersil yang berbeda di pusat-pusat Eropa – sehingga menjadi perusahaan berskala internasional – dan sebagian lagi dikarenakan mereka menjadi kreditor secara monopoli bagi keluarga kerajaan dan pemerintahan bukannya sebagai kreditor kepada individu atau perusahaan-perusahaan, yang tentunya menyangkut uang yang sangat besar.
Anselm, yang paling tua, tetap tinggal di Frankfurt; Nathan, yang paling cerdik dan kejam, memang sudah tinggal di London; James, kolektor seni, pergi ke Paris, dalam tahun 1812; Salomon ke Wina, dalam tahun 1816; dan Carl Meyer ke Naples dalam tahun 1820.
Note : *** Islam memiliki yang lebih luar biasa, Al Quran sebagai kitab suci terakhir dan satu satunya yang haq di akhir zaman ini, Ukhuwah Islamiyah, dan Hormati orang tua, semuanya terkonsep rapi di ajaran Islam, tinggal umatnya harus kuat memegang dan menjalankan secara konsekwen. dan tidak mustahil Islam kembali berjaya dalam memegang teguh nilai Islam dan Quran disetiap langkahnya.
Setiap Pertempuran, Yahudi lah Paling Untung
kel.rothschild1John Reeves, dalam bukunya THE ROTHSCHILDS: Penguasa Keuangan Negara, memberikan ringkasan yang rinci mengenai aktifitas mereka:
Sejak tahun 1812, perusahaan meninggalkan patron konvensional yang sudah usang dan menggunakan metode bisnis baru yang dibuat sendiri secara khusus. Kekayaan dan sumber daya yang tumbuh dengan pesat membuat operasi system perbankan yang sudah tua tidak menarik lagi. Aktifitas keuangan pemerintah seperti menerbitkan pinjaman Negara dan emisi dana pemerintah, terbukti lebih menyenangkan, dan tidak diragukan lagi jauh lebih menguntungkan, oleh karena itu kita dapat menemukan bahwa perusahaan ini dalam tahun 1812-1830, terlibat dalam transaksi-transaksi besar yang berkesinambungan, menciptakan adanya kekuasaan yang tidak pernah dicapai sebelumnya oleh perusahaan lain. Pengaruh perusahaan ini sangat besar dan sangat berkuasa sehingga dapat dikatakan tidak ada perang yang dilakukan tanpa bantuan Rothchilds, karena kontrol atas pasar uang berada ditangan mereka sehingga secara effektif mereka bisa menahan atau mendapatkan dana yang diperlukan.
Sebagai contoh, pada waktu terjadi perang yang dipimpin oleh Napoleon, James yang berada di Paris, membiayai Napoleon, sementara Nathan yang berada di London membiayai Wellington, dan masing-masing tentara yang mewakili mereka akhirnya bertemu di Waterloo, seperti yang akan kita lihat nanti, Insya Allah, dan Rocthschilds khususnya yang memperoleh keuntungan yang besar atas peperangan ini. Nathan Rothschild lah yang pertama dikenal sebagai pendana tentara Wellington ketika di Portugal. John Reeves mengutip ucapan Nathan Rothschild – “yang telah melipatgandakan kekayaannya 2,500 kali dalam lima tahun” – sebagai berikut:
Ketika saya menetap di London, perusahaan India Timur mempunyai kekayaan pounds$ 800,000 dalam bentuk emas untuk dijual. Saya datangi mereka dan membeli seluruh emas tersebut. Saya tahu bangsawan Wellington membutuhkan itu. Saya membeli banyak dengan diskon. Pemerintah mengirimkannya kepada saya dan mengatakan bahwa mereka harus memiliki itu. Ketika mereka memperolehnya, mereka tidak tahu bagaimana caranya agar emas tersebut berada di Portugis. Saya mengambil alih masalah ini dan mengirimkannya melalui Perancis, dan itulah bisnis terbaik yang pernah saya lakukan.
Ketika pertempuran Waterloo sangat dekat, Nathan Rothschild secara pribadi menuju medan peperangan untuk menyaksikan peristiwa tersebut secara langsung sehingga dia dapat mengetahui hasil dari pertempuran tersebut, yang mana apapun hasilnya akan mengakibatkan pengaruh yang dahsyat baik secara politis maupun ekonomi. Ketika semua menjadi jelas – setelah pertempuran telah berakhir, pada tanggal 18 Juni, 1815 – ketika Wellington telah menang, Nathan melompat keatas kudanya dan memacunya dimalam hari menuju Brusel. Tanpa berhenti untuk beristirahat, dia melompat menuju kereta tercepat yang dapat ia temukan dan melesat menuju Ostend dan tiba pada tanggal 19 Juni. Walaupun cuaca di Inggris sangat tidak mendukung, dia berhasil membujuk nelayan untuk membawanya menyeberang menuju Inggris sesegera mungkin dengan biaya 2,000 frank (dibayar dimuka kepada isteri nelayan tersebut), dan tiba dengan selamat di Dover pada sore harinya.  Masih tidak berhenti untuk beristirahat, Nathan Rothschild melompat ke kuda lainnya untuk segera menyelesaikan perjalanannya menuju London.
John Reeves melanjutkan ceritanya:
Hari berikutnya dia kelihatan bersandar di pilarnya di bursa saham yang terkenal tersebut, dengan kondisi kesehatan serta spirit yang hancur, dan terlihat seperti orang yang kewalahan sebagai akibat bencana yang dahsyat yang dialaminya. Kegelapan dan rasa putus asa menghinggapi penduduk kota selama beberapa hari, dan setiap orang melihat ke Rothschild, dan memandang satu sama lain, dan akhirnya sampai pada suatu kesimpulan bahwa harapan mereka telah dihancurkan dan belum tahu hal terburuk apakah yang akan terjadi. Bukankah Rothschild telah melakukan perjalanan lintas benua secara tergesa-gesa? Dan apakah agennya telah menjual seluruh sahamnya?
Sepanjang hari mencekam tersebut, beredar rumor (yang berasal dari sumber yang tidak diketahui) mulai menyebar di masyarakat yang mengatakan bahwa tentara Blucher telah dikalahkan oleh Napoleon di Ligny pada tanggal 16 dan 17 Juni, dan Wellington tidak dapat berharap untuk dapat menghambat kemenangan Napoleon dan besertanya kekuatan yang lebih besar mungkin sudah mengambil alih wilayah lawan pada tanggal 20 Juni, 1815, dan hanya Nathan Rothschild satu-satunya orang yang berada di London yang mengetahui siapa yang memenangkan pertempuran di Waterloo.
Setelah hari berlalu, harga di bursa saham turun dan turun dengan cepat sehingga setiap orang mencoba memotong kerugian dengan menjual sahamnya sedapat mungkin, dan mungkin berharap agar mereka seperti agen Nathan Rothschild yang telah menjual saham-sahamnya pada permulaan hari itu.
John Reeves melanjutkan:
Dan ketika sore menjelang, tidak ada sinar yang menerangi kegelapan yang menyelimuti kondisi saat itu.  Namun di sore berikutnya dengan tiba-tiba, terjadi suatu kondisi yang sangat menghebohkan. Dimana dilaporkan bahwa semua orang dengan mata yang membelalak dan dahi yang berkerut, bahwa Wellington adalah si pemenang, dan bangsa Perancis kalah. Nathan Mayer lah yang mengumumkan pertama kali berita bagus tersebut kepada temannya dengan rasa senang dan kepuasan yang ditutup-tutupi. Ketika khabar gembira sampai kepada mereka secara resmi beberapa jam kemudian, kegembiraan publik meluap melewati batas.  Aktivitas keuangan di bursa saham meningkat kembali. Banyak yang mengasihani Rothschild atas kerugian besar yang dialaminya, begitu mereka pikir, menderita; mereka tidak mempunyai kecurigaan sedikitpun; hal ini disebabkan ia menggunakan pialang saham yang telah dikenal masyarakat luas  sebagai agennya menjualkan sahamnya secara terbuka, sementara pialang sahamnya yang tidak dikenal publik telah membeli secara rahasia setiap saham yang dapat mereka amankan. Jauh dari kerugian, alih-alih dia telah memanipulasi uangnya hampir 1 juta poundsterling.
Dan hal diatas terjadi pada tahun 1815, dan nilai pounds telah berkali lipat meningkat– bahkan paling tidak lebih dari 30 kali lipat – saat ini.
Mereka Tidak Nasionalis dan Tidak Berpartai
kel.rothschild2James Rothschild di Paris juga membuat keuntungan yang mengagumkan dari hasil peperangan. Dimana dia telah membantu Napoleon dengan pendanaan untuk perang ketika kekaisaran mempunyai kesempatan untuk berjuang, dan juga sesudah pertempuran di Waterloo, dimana semua biaya yang diklaim oleh Allied Powers beserta  ganti rugi perang yang harus ditanggung Perancis wajib dibayarkan melalui tangan Baron James de Rothschild, yang menghasilkan komisi yang besar dalam prosesnya.
Pada tahap berikutnya, dalam tahun 1823, dia mengambil alih seluruh hutang-hutang Perancis  – yang kebanyakan berasal dari pinjaman Napoleon atau pembayaran kepada Allied Power sebagai biaya perang dan ganti rugi – dengan total melebihi 3,000,000,000 francs.  Tidak perlu diragukan lagi, bunga yang diterimanya atas pinjaman ini bukanlah jumlah yang dapat disepelekan.
Akhir cerita, pada tahun 1815, seluruh Negara yang terlibat dalam perang Napoleon menjadi miskin. Dengan menggunakan uang yang mereka hasilkan dari perang-perang tersebut, Rothschild bersaudara sangat bergembira sekali untuk meminjamkan uang kepada 5 negara-negara besar di Eropa pada saat itu seperti: Inggris, Rusia, Austria, Perancis dan Prusia – antara tahun 1815 dan 1830, yang berjumlah “hampir 1000 milyar thaler. Rothschild tidak pernah rugi.
Thaler – dari kata ‘dollar’ aslinya –, untuk mata uang perak ( sebagai pelengkap mata uang emas) yang tidak lagi digunakan saat ini, dahulunya sering digunakan di Eropa pada periode Celtic, namun kedua mata uang logam tersebut telah dihapuskan oleh sistem perbankan Yahudi dan digantikan dengan mata uang kertas yang tidak berguna.
Oleh karena itu sangatlah sulit untuk memperkirakan berapa ekuivalen 1000 milyar thaler dalam tahun 1815 dengan masa sekarang, sebagai contoh, mereka memiliki daya beli yang besar untuk membeli bahan dasar pokok seperti gandum. Cukuplah untuk mengatakan bahwa ini memang jumlah uang yang sangat besar.
John Reeves meringkas kebangkitan keluarga Rothschild, bermula dari bukan siapa-siapa, sebelum revolusi Amerika dan Perancis, dan menjadi orang yang berkuasa dan menonjol dalam perang-perang yang terjadi pada masa itu, dalam bukunya, THE ROTHSCHILD: THE FINANCIAL RULERS OF NATIONS, John Reeves menerangkan dalam kalimat sebagai berikut:
Rothschild bersaudara sesungguhnya mengalami kemujuran akibat pecahnya pemberontakan di Amerika dan revolusi Perancis, yang mengakibatkan terbukanya kesempatan melalui relasi akrab mereka yaitu para tuan tanah untuk meletakkan pondasi yang kokoh sebagai dasar perolehan harta kekayaan yang besar. Hal yang sama juga terjadi pada masa dimana Napoleon mulai berjaya secara bertahap, sampai ia mencapai puncak kekuasaan di Perancis, hingga pada akhirnya ia digulingkan dan dipaksa untuk mengundurkan diri, sebelum tercapai niatnya untuk menguasai seluruh Eropa agar tunduk dibawah kepemimpinannya yang zalim.
Ketika bintang Napoleon tenggelam dan menghilang, kekayaan Rothschild bertambah secara cemerlang. Ketika Napoleon hancur luluh lantak di Waterloo, bintangnya punah untuk selamanya, namun sebaliknya kekuasaan Rothschild bertambah dari hari kehari dan menyingkirkan yang lainnya. Rothschild tidak mempunyai nasionalitas dari negara manapun, mereka adalah kosmopolit, pada satu sisi mereka menyediakan perlengkapan bagi tentara Napoleon, dan disisi lain, mereka memberikan pinjaman kepada musuhnya, yang menggunakan dana tersebut sebagai dana kampanye untuk melawan Napoleon; mereka tidak termasuk dalam partai apapun, mereka siap untuk berkembang menjadi kaya atas biaya teman-teman dan musuh-musuhnya. Kejatuhan Napoleon adalah merupakan kebangkitan Rothschild. Kecepatan dalam membawa berita mengenai kekalahan Napoleon jauh sebelum dunia mengenal dunia intelligen, membuat Rothschild mampu melakukan pembelian saham secara besar-besaran, sehingga ketika berita kekalahan tersebut diketahui oleh publik, transaksi di bursa saham meningkat, keuntungan yang diperoleh dari transaksi tersebut sangat besar yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Sejak saat itu dan selanjutnya, mereka mempunyai posisi utama di dalam perpolitikan dunia; mereka dianggap sebagai penguasa, pendapat mereka harus dimintakan sebelum operasi keuangan dalam skala besar diambil. Sejak saat itu, permintaan untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan mereka banyak dicari oleh para pemimpin Negara yang memerlukan pinjaman, dan si penerima tersebut merasa bahwa bantuan tersebut adalah suatu anugerah yang diberikan secara khusus.
Selusin Bank adalah Bawahannya, Tentaranya adalah Pedagang, dan Spekulasi adalah Pedangnya”
kel.rothschild3Sejarah tidak mencatat adanya perusahaan lain yang memegang posisi yang sangat penting, atau mempunyai kekuasaan yang begitu besar untuk melakukan kontrol atas banyak Negara, seperti yang telah dimiliki oleh keluarga Rothschild.  Hampir tidak memungkinkan untuk menerangkan pengaruh mereka selama 50 tahun terakhir, mereka lakukan dengan tidak mencolok dan tidak demontratif. Mereka tidak pernah secara resmi terlibat dikabinet, oleh karena itu pendapat mereka jarang diketahui oleh masyarakat luas; namun, meskipun demikian, mereka menikmati kepercayaan yang diberikan oleh pemerintah dari banyak Negara yang sering sekali secara terpaksa meminta nasihat keuangan kepada mereka yang dikenal sebagai pemodal kuat. Tidak ada satupun perusahaan ataupun suatu keluarga yang pernah diperhitungkan dengan begitu menonjolnya dalam sejarah seperti Rothschild bersaudara, dan juga belum ada keluarga yang mempunyai ketenangan dalam sikapnya seperti yang mereka lakukan.
Penulis modern lainnya, Anthony Allfrey, mempunyai kesimpulan yang sama dalam bukunya, King Edward VII and his Jewish Court:
Kelima bersaudara asal Frankfurt itu, pada abad pertengahan telah menancapkan kakinya menjadi pemimpin pusat keuangan di Eropa, dan memonopoli fungsi sebagai kreditor maya yang memberikan pinjaman baik kepada Negara-negara besar maupun kecil.  Sepak terjang mereka menembus antar lintas Negara dan tetap menjaga posisi secara objektif serta selalu menjaga agar tidak berada dalam lingkaran politik yang berlaku di dalam Negara-negara tersebut.
Banyak pertanyaan bagaimana ke lima generasi pertama Rothschild dapat memperoleh kekayaan dengan begitu cepat – hal ini dimungkinkan karena mereka selalu berkerja bersama-sama. Mereka akan mengambil posisi bertahan untuk “merebut kesempatan pada waktu yang tepat pada saat terjadinya krisis ekonomi ataupun politik dan membalikkannya menjadi keuntungan”, keuntungan selalu menjadi tujuan utama mereka.
John Reeves menguraikan beberapa pandangan atas strategi-strategi yang telah membuat mereka sukses yang tidak diketahui ataupun disadari oleh dunia hingga saat ini,
Beragam manuver dijalankan berdasarkan perintah dari perusahaan dan seringkali saling bertentangan satu sama lain. Memang tidak ada yang lebih sederhana dari metode yang mereka terapkan untuk memperoleh keuntungan yang besar. Mereka  manuver di bursa saham dan lakukan kelicikan dan penipuan informasi; setiap rumor dan berita palsu diumumkan; dan sejumlah uang besar dan kecil dikorbankan untuk mengamankan keberhasilan skema mereka. Dengan cara-cara tersebutlah kemudian Rothschild bersaudara mengumpulkan milyaran uang, dinama perwakilannya berusaha untuk menjaga dan meningkatkan terus keuntungan dengan prinsip kehati-hatian dan meninggalkan cara-cara usang dalam perolehan keuntungan dimasa lalu.
John Reeves melanjutkan:
Keuntungan besar diperoleh pada masa terjadinya kehebohan, seperti perang telah dekat, atau ketika terjadinya kelumpuhan dalam perpolitikan dan masyarakat diliputi oleh kegelisahan serta keraguan. Perolehan peringatan dini atas hal-hal yang mungkin terjadi yang mengakibatkan dampak yang besar adalah hal yang sangat penting bagi spekulan, karena dengan dimilikinya informasi seperti itu, mereka akan mampu untuk mencuri start atas pesaing lainnya dan menggunakan pengetahuan yang mereka miliki menjadi keuntungan. Dengan mencuri start walau hanya lebih awal 5 menit akan berdampak sangat besar, yang memungkinkan untuk memperoleh keuntungan lebih sekitar puluhan pounsterling, tentunya, dalam pengertian ini, waktu adalah uang tidak diragukan lagi, keputusan tersebut dapat menyebabkan perusahaan yang saham-sahamnya yang terdaftar di bursa saham memperoleh keuntungan ataupun mengalami kerugian dalam sekejap.
Oleh karena itu, Rothchilds selalu memberikan perhatian yang besar terhadap perolehan informasi atas isu-isu besar, dan sedini mungkin, terutama di bidang politik, sehingga untuk memenuhi kepentingan tersebut, mereka berusaha menemukan dan mencari dukungan orang-orang yang mempunyai kedudukan resmi ataupun yang berada di lingkar bisnis, yang mempunyai akses untuk menerima berita-berita besar tersebut sedini mungkin.
Disamping mereka mempunyai agen dan informan pada lingkaran resmi dalam badan-badan politik dan bisnis, mereka mempunyai perwakilan disetiap ibukota Negara-negara besar diseluruh dunia yang bertugas untuk berburu informasi yang cenderung mempengaruhi pasar baik secara langsung maupun tidak langsung dan wajib melaporkannya. Sistem unggul yang mereka miliki untuk memperoleh informasi sedini mungkin atas kejadian-kejadian yang terjadi telah dibuktikan dalam beberapa kesempatan, dan mereka menjadi orang pertama yang menyediakan data yang mendetil kepada pemerintah atas suatu isu sebelum laporan tersebut sampai kepada mereka (pemerintah) melalui saluran resmi dan khusus.
Berita tentang kekalahan Napoleon di Waterloo, seperti yang telah diterangkan sebelumnya, diketahui oleh Rothschild bersaudara beberapa hari sebelum masyarakat bergembira atas kekalahan tersebut, dan Lord Aberdeen merasa berhutang budi kepada mereka atas informasi dini yang diterimanya sehubungan dengan pecahnya revolusi Perancis bulan Juli. Dan, juga, dengan adanya kereta api lintas benua menguntungkan posisi mereka.  Mereka adalah “Hudsons” benua; semua lini penting adalah ciptaan dan milik mereka. Ini semua memberikan keuntungan yang besar bagi mereka. Bukan hal yang aneh jika dalam penyampaian berita digunakan kereta khusus beserta kurirnya agar tiba sedini mungkin kerumah-rumah mereka. Setelah adanya penemuan telegram dengan segala kemampuan dan keuntungan yang diberikan, maka mereka menggunakan teknologi ini untuk kesuksesan jalannya operasi perusahaan. Memang tidak mengherankan, ketika peluang yang begitu banyak berpihak kepada mereka, sehingga mendapatkan kesuksesan yang tiada putus-putusnya.
Werner Sombart, dalam bukunya The Jews and Modern Capitalism, menyimpulkan:
Nama Rothschild bukan hanya dikaitkan dengan perusahaan: namun dikaitkan dengan seluruh pengaruh bangsa Yahudi di bursa efek. Dengan bantuan pengaruh nama besar Rothschild bersaudara, membuat mereka mampu mencapai posisi kuat – dan boleh dikatakan mereka mempunyai posisi unik – dalam bursa efek untuk surat-surat berharga milik pemerintah. Tidaklah berlebihan jika di banyak negeri dimana menteri keuangannya tidak mempunyai kesepakatan dengan perusahaan Rothschild bersaudara, maka mereka akan menutup bantuan keuangan kepada Negara yang bersangkutan. “Hanya ada suatu kekuasaan di Eropa”, ini adalah semboyan yang terkenal pada abad ke 19, “yaitu Rothshild bersaudara: selusin bank adalah bawahannya, tentaranya adalah pedagang dan pegawai yang jujur, dan spekulasi adalah pedangnya” (A.Weill).

Sabtu, 07 Desember 2013

Program Kristenisasi


kristenisasi1
Oleh Abu Ya'la Babussalam, Lc
Setelah gagalnya Perang Salib pertama yang berlangsung selama dua abad dalam upaya mencabut Islam dari akarnya, orang-orang Kristen mulai mengadakan kajian yang cermat dan membuat program untuk menghancurkan umat Islam.  Rencana mereka itu  secara bertahap adalah sebagai berikut :
Pertama : Menghancurkan Pemerintahan Islam
Inggris, Yunani, Italia, dan Perancis menggunakan saat lemahnya  Daulah Utsmaniyah karena perselisihan yang berkecamuk di dalam tubuh Daulah itu. Mereka bagai segerombolan serigala lapar menyerbu dengan ganasnya, menguasai tanah-tanah Daulah. Diantaranya adalah ibukota Daulah, Istambul. Kemudian diadakan perjanjian perdamaian Luzan. Inggris memberi isyarat kepada penghianat besar, Attaturk, bahwa Inggris tidak akan menarik pasukannya dari tanah Turki, kecuali setelah dilaksanakan  kesepakatan dengan syarat-syarat berikut :
1.    Menghapus Khilafah Islamiyah, mengusir khalifah dari Turki, dan merampas harta bendanya.
2.  Turki berjanji untuk menumpas segala gerakan yang dilancarkan oleh para pembela khilafah.
3.   Turki harus memutuskan hubungan dengan Islam.
4.   Turki harus memilih undang-undang sipil sebagai penggamti undang-undang yang diambil dari hukum Islam.
Selain itu, menghapus mahkamah (pengadilan) syariah, sekolah-sekolah agama, wakaf, hukum waris, dan mengubah azan dengan bahasa Turki, mengganti huruf Arab dengan huruf Latin, mengganti hari libur pada hari Jumat  menjadi hari Minggu, dan semua ini terlaksana tuntas pada tahun 1928.
Pengkhianatan Attaturk berhasil melaksanakan segala persyaratan ini. Dan Inggris beserta para sekutunya mengakui kemerdekaan Turki. Mereka menyalami Attaturk atas keberhasilannya menghapus khilafah, mensekulerkan Negara dan memerangi Islam.
Ketika Curzon, menteri luar negeri Inggris, berdiri di Majelis Umum Inggris (The House Of Common) melaporkan apa yang terjadi di Turki, sebagian perwakilan Inggris memprotesnya. Merekapun menyangkal mengapa Inggris mengakui  kemerdekaan Turki yang disekitarnya mungkin berkumpul Negara-negara Islam yang kemudian bersama-sama menyerang Barat. Curzon menjawab, “Kita telah menghancurkan Turki yang tidak memungkinkan mendirikan satu negarapun yang membelanya sejak hari ini.  Sebab, kita telah menghancurkan kekuatannya yang terwujud dalam dua dimensi.: Islam dan khilafah.” Para hadirinpun bertepuk tangan, dan tidak terdengar lagi bantahan.
Kedua : Menghancurkan dan Menghapus Al-Qur’an
quraniaHal ini dilakukan karena ajaran Salib (Kristen) beranggapan bahwa Al-Qur’an adalah sumber pokok kekuatan orang-orang Islam, sumber mereka untuk kejayaan, kekuatan dan kemajuannya yang telah berlalu.
  1. Gladstone, yang menjabat Perdana Menteri Inggris selama empat kali (1864-1874, 1880-1885, 1886-1891, 1892-1894) dalam majelis umum (the House of Common) Inggris, sambil mengangkat Al-Qur’an, mengatakan, “Selama Al-AQur’an ini berada di tangan orang-orang Islam, maka Eropa sama sekali tidak akan dapat menguasai Dunia Timur. Bahkan Eropa itu sendiri akan terancam.”
  2. Seorang missionaris, William Jeford Balcrof, berkata, “jika Al-Qur’an dapat disisihkan dan kota Mekkah dapat diputuskan hubungannya dari Negara-negara Arab, maka sangat memungkinkan bagi kita untuk melihat seorang Arab secara bertahap mengikuti kemajuan Barat, terjauh dari Muhammad dan sekitarnya.”
  3. Seorang missionaris pendengki lainnya, Catly, berkata,, “Kita harus menggunakan Al-Qur’an sebagai senjata yang paling ampuh dalam Islam untuk melawan Islam itu sendiri, sehingga kita dapat menghancurkannya. Kita harus menerapkan kepada kaum muslimin bahwa yang benar dalam Al-Qur’an bukanlah baru, dan yang baru tidaklah benar.”
  4. Seorang penguasa kolonial Perancis di Aljazair, dalam peringatan seratus tahun kedudukannya, berkata, “Kita harus melenyapkan Al-Qur’an yang berbahasa Arab itu dari kehidupan mereka, dan melenyapkan bahasa Arab dari lidah mereka, agar kita dapat berkuasa penuh.”
Kenyataan ini menimbulkan kejadian unik di Perancis. Yaitu adanya usaha untuk melenyapkan Al-Qur’an dari jiwa pemuda Aljazair. Perancis mengadakan suatu eksperimen ilmiah, dengan memilih sepuluh pemudi muslimat berkebangsaan Aljazair yang oleh pemerintah Perancis dimasukkan di sekolah Perancis, diajari kultur Perancis, diajari bahasa Perancis, sehingga seolah-olah seperti seorang Perancis. Setelah sebelas tahun berlalu dari usahanya itu, sekolah mengadakan pesta meriah untuk melepas alumni. Diundang pula para menteri, ahli fikir dan para wartawan. Ketika pesta dimulai, semua hadirin dikejutkan dengan pemunculan pemudi-pemudi Aljazair yang mengenakan busana muslimat Aljazair. Surat kabar-surat kabar Perancis gempar  dan bertanya-tanya. “Apa yang dilakukan Perancis di Aljazair, setelah berlalu seratus duapuluh delapan tahun  dari masa pendudukannya?” La Couist, Menteri kolonial Perancis menjawab, “Apa yang mesti saya lakukan, jika Al-Qur’an ternyata lebih kuat dari Perancis?”
Program Kristenisasi Ketiga : Menghancurkan Ideologi Islam di kalangan kaum Muslimin dan memutus hubungan dengan Allah.
Hal ini dilakukan untuk mengacaukan peraturan Islam dan agar kaum Muslimin mengikuti jalan Atheis serta Liberal, sehingga mereka terpisah dari nilai nilai Islam.
1.   Samuel Zwemmer, ketua perkumpulan misionaris Kristenisasi, dalam Konferensi Suci yang diadakan pada tahun 1935 mengatakan, “Tugas misionaris yang diberikan oleh Negara-negara Masehi (Kristen) yang harus dilaksanakan di Negara-negara Muhammad bukanlah memasukkan kaum Muslimin ke agama Kristen. Tugas kalian adalah hanya untuk mengeluarkan Muslimin dari Islam, agar menjadi makhluk yang tidak punya hubungan dengan Allah. Dan secara otomatis akan terputus pula hubungannya dengan akhlak yang menjadi sandaran umat dalam hidupnya. Jika hal ini dapat kalian laksanakan, maka dengan mudah kalian membuka pintu imperialisme di negara negara Islam. Kalian telah menyiapkan semua pola pikiran di negeri negeri Islam untuk menerima cara di jalan apapun yang kalian usahakan, yaitu mengeluarkan Muslimin dari Islam.”
Pada prinsipnya, kalian telah mempersiapkan generasi muda di Negara muslim tanpa mereka mengenal hubungan dengan Allah dan tidak perlu memasukkannya ke dalam agama Kristen. Oleh karena itu,  lahirlah generasi Muslim, sebagaimana dikehendaki oleh imperialisme, tidak memperhatikan keagungan, mencintai hidup santai dan malas, semua kegiatannya di dunia ini semata-mata untuk memenuhi hawa nafsu. Jika belajar juga semata-mata untuk memenuhi hawa nafsu. Dan jika menduduki jabatan tertinggi, juga untuk mengejar hawa nafsu. Sesungguhnya segala usahanya hanyalah untuk memuaskan hawa nafsunya.
Wahai para misionaris, sesungguhnya tugas kalian akan berjalan lancar sempurna.”
2.   Zwemmer, dalam buku Al-Gharah ‘alal Alamil Islami (serangan Terhadap Dunia Islam), berkata, “Sesungguhnya Kristenisasi memberi dua keuntungan besar tehadap kultur Barat. Keuntungan menghancurkan dan keuntungan membangun.”
Yang dimaksud dengan menghancurkan adalah terlepasnya orang Islam dari agamanya, meski dengan didorong  ke Atheisme.
Akan halnya membangun, yang dimaksud adalah mengkristenkan  orang Muslim, jika mungkin mereka (muslim) bisa  dapat berdiri bersama dengan kultur Barat melawan bangsanya.”
3.   Seorang misionaris lain, Tacly, berkata “Kita harus membantu pembangunan sekolah-sekolah yang berpolakan Barat sekuler, karena kebanyakan  kaum muslimin akan goyah keyakinannya terhadap Islam dan Al-Qur’an ketika mereka mempelajari buku-buku sekolah yang berpolakan Barat, dan belajar bahasa-bahasa asing.”
Program Kristenisasi Keempat: Merusak Wanita Muslimat
auratwanYaitu dengan memperhatikan gerakan-gerakan kebebasan wanita, mengadakan diskusi-diskusi disekitar hak-hak wanita dan persamaannya dengan laki-laki.  Membatalkan peraturan Islam dalam hal beristri lebih dari satu dan menentang dibolehkannya talak. Ini semua dimaksudkan untuk menimbulkan keraguan terhadap kesesuaian syariat Islam dalm kehidupan.
Pendeta Zwemmer telah menulis sebuah makalah dengan judul A-‘Alamul Islamil Yaum (Dunia Islam Hari ini). Ia berkata didalamnya, “Belum pernah ada kaidah yang berlandaskan tauhid, yang lebih besar dari agama Islam, yang tersebar di seluruh benua Asia dan Afrika yang sangat luas. Akidah Islam telah menembus hati dua ratus juta manusia. Ikatan yang paling erat yang mengikat mereka adalah bahasa Arab, sehingga merupakan reruntuhan bangunan tua yang menumpuk di atas bukit yang membaris di timur Kairo. Atau seperti barisan gunung yang menggapai awan, mencakar langit, bersinar puncaknya dengan sinar tauhid. Kaki-kakinya dipenuhi curam-curam jurang beristri banyak dan kejatuhan kedudukan wanita.
Kemudian musuh Islam ini mengakhiri pidatonya dengan memberi nasihat kepada para misionaris agar tidak putus asa. Sebab, ulat kebebasan wanita telah menggerogoti tulang masyarakat Islam. Katanya, “Hendaknya para misionaris tidak putus asa jika melihat hasil misionaris di kalangan kaum muslimin masih lemah. Karena sudah merupakan suatu kenyataan, bahwa telah tumbuh dalam hati kaum muslimin kecenderungan kuat terhadap ilmu-ilmu Eropa dan kebebasan wanita.”
Penulis Perancis popular, Massio Atein La Mai, menulis makalah dalam majalah Perancis Al-‘AAlamin, edisi 15 September 1901. Ia menggambarkan perencanaan matang untuk menghancurkan Islam. “Sesungguhnya metode pendidikan anak-anak Muslim, meski punya pengaruh seperti sudah kita terangkan, namun pendidikan gadis-gadis di sekolah kependetaan adalah lebih menjamin tercapainya apa yang kita cita-citakan. Bahkan saya katakan, bahwa pendidikan anak-anak gadis dengan metode ini adalah jalan satu-datunya untuk menghancurkan Islam oleh pemeluknya sendiri.”
Misionaris  wanita, An-Miligan, berkata, “Kami telah mengumpulkan gadis-gadis dari kalangan ningrat dalam barisan fakultas wanita di Kairo. Tidak ada tempat lain yang memungkinkan untuk mengumpulkan jumlah seperti ini yang terdiri atas gadis gadis muslim di bawah pengaruh (wibawa) Kristen. Oleh karena itu, tidak ada jalan yang lebih dekat kepada penghancuran benteng Islam  dari sekolah ini.”
Wahai saudaraku kaum pendidik, apakah anda mengetahui sebagian rencana Kristen  yang tercela ini dalam upaya menghapus akidah Islam dari jiwa pemudi-pemudi kita,dan memutus hubungan antara mereka dengan Islam?
Apakah telah anda ketahui, bahwa semua tujuannya adalah untuk merobek kesatuan Islam di kawasan masyarakat Islam, sehingga mereka dapat merealisasikan angan-angan mereka dalam tubuh kaum Muslimin ?
Apakah anda telah mengetahui bahwa tujuan terakhirnya adalah merusak keluarga muslim, agar setiap individu yang terdiri atas pemuda dan pemudi bertolak dalam keserbabebasan tanpa ikatan apa-apa?
Jika telah mengetahui semua ini, maka hadapilah tanggungjawab yang diberikan Allah kepadamu dengan sepenuh hati. Tunaikanlah seluruh kewajiban sesempurna mungkin, hingga akhirnya anak-anak dan keluarga kita selamat dari usaha  merusak   yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam.